jump to navigation

Ranah Minang Menangis

rolog

“Jurnalis adalah penulis sejarah, bahkan sebelum sejarah itu sendiri dilahirkan”

Tak habis dirundung bencana. Tahun 2007 sepertinya tahun terkelam bagi masyarakat Sumbar. Silih berganti bencana datang mengancam ranah minang ini, tak peduli waktu dan tempat. Belum tuntas penyelesaian bencana yang satu, sudah datang bencana lainnya.

Setidaknya, menurut catatan penulis empat kali bencana besar menimpa negeri ini. Dimulai dengan gempa berkekuatan 6,2 SR di Solok Selasa 6 Maret, kemudian gelombang pasang setinggi 4-5 meter Kamis 17 Mei, gempa 7,7 SR Selasa 12 September dan disusul pagi harinya Rabu 13 September gempa berkekuatan 7,9 SR.

Gempa 6 Maret berpusat di Batusangkar. Puluhan orang tewas dalam musibah pagi hari itu. Gempa tektonik ini dirasakan hampir disemua wilayah di Sumbar. Namun magnitude tertinggi terasa di 4 kabupaten/kota, yaitu Kota Solok, Kabupaten Solok, kabupaten Agam dan Tanah Datar. Meski demikian, getarannya juga menggoyang Kota Padang, Padang Pariaman dan beberapa kabupaten lainnya.

Hanya dua buan berselang, bencana bergerak ke laut. Kali ini giliran Kota Padang dan kabupaten/kota di pesisir pantai yang terkena bencana gelombang pasang. Laut dengan ketenangan gelombang dan indahnya pucuk-pucuk nyiur, tiba-tiba saja bergejolak dan beringas. Dia menghantarkan gelombang besar dan menghancurkan semua yang menghadangnya. Jalan, rumah, warung, halte dan bahkan warung-warung kelambu di bibir pantai Padang tersapu gelombang pasang.

Gelombang yang di daratan mencapai tinggi 4-5 meter ini, terjadi pada Kamis pagi 17 Mei. Saya ingat, kabar pertaam saya dengar dari salah seorang warga Lubuk Buaya Padang. Kata si pembawa kabar, terjadi banjir di kawasan pantai Kota Padang. Ada rasa tidak percaya saat itu, karean hujan tidak ada hujan, kenapa bisa bajir. Ternyata saya selama ini terbiasa dengan cara berfikir linear. Berfikir yang lurus-lurus saja. Banjir pasti terjadi akibat hujan. Padahal laut yang mengganas.

Gelombang pasang terjadi akibat daya tarik (Gravitasi) bumi-bulan-matahari memasuki fase maksimum saat bulan baru, yang jatuh pada 17 Mei 2007 pukul 2.59 wib dini hari itu. Fenomena terbesar dalam 10 tahun terakhir itu, melanda hampir semua pesisir barat Ranah Minang. Mulai dari ujung Selatan di Kabupaten Pesisir Selatan hingga ujung Utara di Agam.

Ribuan orang yang berdomisili disepanjang bibir pantai, untuk satu bulan kedepan, terpaksa harus hidup ditenda-tenda. Masih ada dalam ingatan saya, bagaiman ombak di pantai padang menghantam atap sebuah halte di ada bibir pantai. Satu demi satu lembaran atap halte setinggi 3,5 meter itu jatuh ke bawah. Saya juga ingat, bagaimana luberan air laut mencapai jalan raya hingga puluhan meter ke arah perumahan warga. Bencana laut terhebat yang pernah saya saksikan.

Tak heran jika wakil presiden RI, HM Jusuf Kalla, menyebut Sumbar sebagai supermarket bencana. Karena empat bulan setealh gelombang pasang, Sumbar kembali di hajar bencana besar. Keadaan yang mulai tenang dan rasa takut yang menghilang dari wajah rang Minang ini, kembali buyar, ketika pada 12 September gempa besar bergetar dihampir semua wailayah Sumbar. Sore itu merupakan hari terakhir bulan Sya’ban 1428 H. Dan besoknya seluruh umat Islam akan menjalankan ibadah puasa.

Gempa sore itu memang tidak berpusat di Sumbar, namun di provinsi tetangga, Bengkulu. Hampir semua kabupaten/kota di Sumbar terkena daya rusaknya. Tetapi yang terparah adalah kabupaten Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai dan Kota Padang. Sedang 16 kabupaten/kota lainnya, juga mengalami kerusakan tapi tidak seberapa.

Rakyat Sumbar benar-benar diuji kesabarannya. Dalam 12 jam kemudian, gempa kedua berkekuatan 7,9 SR berpusat di Pesisir Selatan, juga menguncang. Kerusakan yang ditimbulkannya makin besar. Kalau diibaratkan, gempa pertama hanya menimbulkan keretakan, maka gempa kedua ini memecah dan merontokan semuanya. Namun ajaibnya, meski daya rusak dan kekuatannya lebih besar dari gempa 6 Maret silam, dua kali gempa yang bersahutan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Keculai General Manager PT Suka Fajar Ir Moyardi Kasim, yang tewas terhimpit reruntuhan kantornya.

Jurnalis adalah penulis sejarah, bahkan sebelum sejarah itu dilahirkan. Berikut ini catatan saya sebagai jurnalis, dan pernah dimuat secara utuh atau sebagian di harian Posmetro Padang. Catatan ini hanya bagian kecil dari dokumentasi soal bencana di Sumbar. Ada banyak goresan, catatan dan bahkan ingatan para korban yang belum terungakp. Kecuali yang dituliskan media. (nto)

Ranah Minang Menangis
Seri Pertama : Gempa 6 Maret 2007 (1)

Gempa dengan kekuatan 5,8 SR yang berpusat di Batusangkar Selasa (6/3), menimbulkan korban jiwa diberbagai kabupaten/kota di Sumatera Barat. Korban tewas terbanyak terjadi di kabupaten dan Kota Solok, yakni sebanyak 33 orang. Sampai pukul 18.00 wib, menurut data Satkorlak Penanggulan Bencana (PB) Sumatera Barat, 19 orang tewas di Kabupaten Solok dan 14 di Kota Solok.

Dilaporkan wartawan Posmetro dari Solok, korban tewas umumnya tertimpa dinding rumah dan atap bangunan. Seperti 7 orang tewas di Sumani Solok diakibatkan tertimpa bangunan SD 06 Sumani. Tiga orang lainnya tewas dihimpit dinding bangunan Bimbel Primagama Kota Solok. Jumlah korban tewas kemukinan terus bertambah, karena ada ratusan warga yang masih dirawat akibat luka berat dan ringan.

Selain korban tewas, gempa di pagi hari itu juga menimbulkan kerusakan bangunan dan fasilitas umum di berbagai kecamatan di Solok. Tercatat 4 kecamatan di kabupaten Solok mengalami kerusakan, yaitu Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Gunung Talang, Kecamatan Kubung dan kecamatan X Koto. Selain itu dua kecamatan di Kota Solok, yaitu kecamatan Tanjung Harapan dan Kecamatan Lubuk Sikarak, juga mengalami hal yang sama.

Akibat gempa itu, sejak pukul 12.00 siang aktifitas warga di Kabupaten dan Kota Solok terhenti. Gempa juga memmbuat pemilik toko menutup tokonya lebih awal. Begitu hal dengan sekolah, pasca gempa siswa-siswa langsung di suruh pulang. Jalanan sejak pagi hari hingga sore, lengang. Warga memilih berada di rumah ,masing-masing. Meraka memasang tenda di halaman rumahnya guna mengantisipasi gempa susulan.

Gempa yang berpusat di sebelah Barat Daya Batusangkar itu, menyebabkan putusnya jaringan listrik dan saluran komunikasi. Bahkan dilaporkan, akibat kepanikan, terjadi beberapa kali kecelakaan. Tetapi tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Untuk memantau kondisi terkini, Pemkab Solok dan Kota Solok telah membangun Posko utama, di depan kantor camat Kubung untuk Kabupaten Solok dan di Lapangan Merdeka untuk Kota Solok.

Padang Panik

Gempa dengan kekuatan 5,8 skala ricter itu juga menimbulkan kepanikan warga. Berbagai ruas jalan di kota Padang dilanda kemacetan hebat. Hal ini terjadi karena banyaknya warga kota yang menyelamatkan diri, dari kemukinan terjadinya tsunami.

Di sepanjang jalan Sawahan misalnya, beberapa menit setelah gempa menghoyak. Ratusan kendaraan mulai dari roda empat sampai roda dua, merangkak menuju kawasan Limau Manis dan kawaan tinggi lainnya di kota Padang. Keadaan ini memacetkan ruas jalan tersebut, terutama dari pertigaan Jati sampai depan SPBU Sawahan.

Salah seorang mahasiswa Unand, Paljriati yang turut berlarian bersama masyarakat lainnya, mengatakan dirinya ikut lari, karena takut akan datang tsunami.

“Karena tetangga pada berlarian, saya pun ikut lari. Buat jaga-jaga aja,” ungkap Paljriati.

Ancaman akan datangnya tsunami, agaknya yang menyebabkan ribuan masyarakat Kota Padang berlarian menuju tempat yang lebih tinggi. Trauma Tsuanami Aceh, menjadi salah satu sebabnya. Silmi (25), alumni MIPA Unand, mengaku ketika gempa terjadi, dia sedang berada di salah satu studio photo di Kota Padang. Begitu gempa, dia langsung menuju Limau Manis.

“Bukan takut tsunami sih, tapi karena orang pada lari, ya saya ikut lari juga,”

Kemacetan juga terjadi di ruas Jalan Jati, terutama di depan rumah sakit M Jamil. Ratusan kendaraan tumpah ruah ke jalanan. Kondisi kondusif terjadi saat beberapa pemuda setempat dan Satpam RS M Djamil berinisiatif mengatur lalu lintas. Beberapa siswa sekolahan yang ikut berlarian menyelamatkan diri, tampak ada yang menangis ketakutan. Bahkan pingsan seperti yang terjadi di depan rumah sakit M Djamil Padang.

Keadaan serupa juga terjadi di beberapa ruas jalan protokol. Jalan Sudirman, Rasuna Said, Khatib Sulaiman serta jalan Pasar Alai-Ampang serta beberapa ruas jalan lainnya terlihat macet. Masyarakat yang panik, tampak berbondong menyelamatkan diri.

“Untung siang hari terjadinya, kalau tidak,” kata Muklis Tanjung (45) warga Ampang saat menyelamatkan diri bersama anggota keluarganya menuju Kampung Kelawi.

Kapoltabes Padang, Kombes Pol Drs Tri Agus Heru Prasetya, melalui Kasatlantas, Kompol Sareng Suprapto, di ruas Jalan Sudirman, sibuk turun langsung mengatur arus lalulintas. Dia mengatakan, kepolisian sudah menyiapkan 147 personil Satlantas Poltabes Padang untuk mengatur arus lalulintas.

Gempa bukan saja menyebabkan kemacetan, namun beberapa toko seusai gempa juga langsung ditutup pemiliknya. Salah seorang loper koran Mardi (34) warga Simpang Haru, menyatakan, akibat ditutupnya toko-toko di Pasar Raya Padang, dagangan korannya tidak laku. Biasanya dia bisa menghabiskan puluhan eksamplar setiap hari. Namun pada hari itu, korannya hanya terjual beberapa eksamplar saja.

Rumah Sakit Panik

Kepanikan juga terjadi di Rumah Sakit (RS) M DJamil dan RS BMC Restu Ibu Padang. Puluhan dokter, perawat, pasien beserta keluarganya saling berdesakan keluar dari rumah sakit tersebut.

Puluhan pasien yang sedang dirawat didua rumah sakit itu sengaja dipindahkan ke teras dan halaman rumah sakit. Keluarga pasien, dokter dan perawat saling bahu-membahu mendorong tempat tidur pasien ke lantai dasar, untuk menghindari runtuhnya gedung rumah sakit.

Salah seorang keluarga pasien RS BMC Restu Ibu Benhire (58), mengatakan, dia masih shock dengan kejadian itu. Pada saat gempa terjadi, dia berada di lantai 2 RS BMC Restu Ibu, menunggui suaminya yang dirawat disana. “Dengan dibantu anak saya, kami langsung mendorong bapak (suaminya) ke lantai bawah. Kami takut, gempa akan merubuhkan banguna ini. Sampai sekarang ini saya masih shock,” ungkap warga Tabing ini.

Pantauan POSMETRO di dua lokasi itu, kecemasan terlihat jelas di wajah pasien, keluarga, perawat serta para dokter. Sebagian masih terduduk lemas, memegangi dada. Sebagian lainnya mencoba menenangkan pasien yang tampak shok. Beberapa diantara mereka ada yang masih masih dinfus.

Di RS M Djamil misalnya, puluhan pasien sementara waktu ditempatkan di teras dan halaman rumah sakit. Pengevakuasian pasien bukan saja berlaku untuk pasien dewasa, bayi-bayi yang baru beberapa saat dilahirkan, juga tampak diantara pasien RS terbesar di Sumbar itu.

Kepanikan juga dialami kerabat yang membezuk. Akibat gempa, mereka berlarian keluar dari kawasan M Jamil. Akibatnya saling berdesakan di pintu gerbang RSUP M Djamil tidak bisa dielakan.

Untuk menenangkan suasana, manajemen RSUP M DJamil lewat pengeras suara, mengumumkan kalau gempa itu berkekuatan 5,8 SR dan berpusat di Batusangkar. Sehingga tidak menimbulkan bencana tsunami. Untuk menetralisir kepanikan, pihak rumah sakit menghimbau perawat, dokter, pasien beserta keluarganya untuk tetap tenang. (nto)

Komentar»

1. afraafifah - Juni 1, 2008

sedih melihat kondisi kampung halaman saya yang sekarang sering dilanda bencana 😦
smoga ALLAH menolong kita smua…

-kunjungan balik…

2. Edy Perdian - Juli 28, 2008

Sangat mengharukan dan sangat menyeentuh hati nurani

3. urna - November 30, 2008

saya turut perihatin, hanya tutur kata yang terucap dan hanya doa yang bisa ku ucapkan, smoga kita semua dapat pelajaran dari ini semua,

4. hamba allah - Juli 14, 2009

wah saya sbagai orangpadang merasa ini semua cobaan karena minang sendiri menjunjung tinggi semua norma silam dahulunya tapi lihat sekarang banyak anak-anak ranah minang yang meniru budaya barat gimana tuhan ga marah dan saya merasa minang ini dahulunya kan minang kabau tetapi sekarang minang nya hilang cuman kabau nya saja yang ada”” saya berharap agar rakyat minang kembali ke filsafah “” adat basandi syarak syarak basandi kitabullah””

riizki saputra - Mei 21, 2010

ASSALAM wr .wb maaf . . . . . .mama dan keluarga putra dipadang khususnya daerah jambak ngarai sianok walaupun dan alhamdulilah allah masing sayang sama kita yang tidak begitu parah dibandingkan dengan saudara2 kita yang laen . . .mama alhamdulilah berkat doa mama sekarang putra sudah bekerja ma sebagai pengurus warnet dijakarta mudah2 anakmu ini berhasil ma dan mudah2an pekerjaan anak mama ini lebik maju dan mendapatkan yang lebik baik lagi dari sekarang . . . .putra sangat sayang dengan keluarga putra terutama mama putra SAYANG MAMA wassalam

5. pendi albero - Juli 31, 2009

salam buat saudaraku disumatra barat,dan kt sebut minang kabau.semua itu bukan cobaan, tapi itu adalah peringatan dari sang
pencipta.untuk memperbaiki diri kita masing2,mungkin kita lupa,mana yang dikerjakan dan mana yang dilarangnya,mungkin semua ini kita banyak melupakannya,cobalah kita selalu dekat kepadanya insya allah dia akan selalu menjaga kita.buat muda mudi marilah kita sama2 menjaga diri kita,berarti kita menjaga semua titipan nya,marilah kita bersatu padu dan saling meyayangi,allah lagi maha pengasih lagi maha penyayang.wass hamba allah

6. novia - September 30, 2009

ya alllah selamatkan lah keluargaku dan semua orang disana Amiiiin…!!

7. desna - Oktober 1, 2009

mohon infonya ttg kondisi daerah koto tangah khususnya dikelurahan pasir kandang pasca gempa

8. Goenawan - Oktober 1, 2009

Semoga saudara2 ku tabah menghadapi musibah gempa 7.6 SR
pada tgl 30 September 2009 pk 17.16
Allah beserta kita. Amin

9. PANJAITAN - Oktober 1, 2009

ada tidak yang tahu bagaimana situasi di daerah pasar lubuk buaya, pasara tabing??????? sms ke 0813 7553 7726

10. ceritabella - Oktober 1, 2009

Sayang, kok gda kabar lagi? Kasih kabar secepatnya yah. Aktifkan kartu XL nya biar bisa adek hubungi..

11. yans"dalamjeda" - Oktober 3, 2009

Semoga yang Kuasa memberikan rahmah Nya…
Salam.
http://jedahsejenak.blogspot.com/2009/10/senja-di-sumatera.html

12. deby - Oktober 4, 2009

trenyuh melihat indonesia yg sering dilanda bencana,
smg smwa ini bs dijadikan pegangan qta agar qta perbanyak kebajikan
smg sdr2 qta di padang dan jambi diberi ketabahan,,

13. rahmad basuki - Oktober 5, 2009

allah hu akbar allah hu akbar…….ingatlah kepada-NYA…….jangan sedih dan jangan bimbang ikhlaskan semua yang pergi…bukankah DIA yang empunya semuai ini dan ia pula yang berhak mengambil milik-NYA kita hanya diberi titipan dan sewaktu-waktu IA mau mengambilnya….la haulawala quataillah billah hil aliil’adzim….kita tidak punya daya dan kekuatan untuk menahannya hanya dengan doa kita dapat bertahan dan mohon petunjuknya….amin……sabarlah wahai saudara2 ku di Padang..ALLAh pasti membantu …..jika kita ingat pada-NYA…..

14. rima melati - Oktober 7, 2009

seoga kita dapat bangkit lagi……………..???????????????

15. My Blue - Oktober 16, 2009

Blog ini akan menjadi kenangan-kenangan tentang seorang Harfianto….
namun perjalanan dan takdir hidupnya telah dicukupkan oleh Yang Maha Pencipta….
Innalillahiwainnaillaihirrajiun…..
Selamat Jalan Anto…..
Semoga Allah menerima semua Amal Ibadahmu dan menempatkan dirimu di Sorga Nya… Amin….
Kesedihan begitu terasa kental saat aku buka blog ini……
Blog ini akan terbengkalai…. sepi sepeninggalmu….. Terima kasih teman
Banyak hal yang telah kamu bagi dan perbuat… dan semuanya adalah amal kebaikan untukmu… semoga jalanmu menuju alam keabadian penuh dengan kedamaian…
Selamat Jalan sobat….

Turut berduka cita….

16. Rahmat Miftahul Habib - Desember 13, 2009

Dimana2 gempa selalu akan ditakuti. Kebetulan saya jg merasakan pas gempa tgl 27 Mei 2006 lalu di Jogja. Karena saya tinggal di bagian selatan sehingga terkena dampak yg cukup parah juga.
Pertamakali pengalaman menakutkan tsb terjadi dlm hidupku, rumah di dpn sudah ambruk total. Beruntung tdk ada korban.
Semoga menjadi yg terakhir.
Semoga tidak terjadi gempa2 yg menimbulkan banyak korban..

17. Andreyan - Juli 20, 2010

Semoga saudara2 ku tabah menghadapi musibah gempa 7.6 SR
pada tgl 30 September 2009 pk 17.16
Allah beserta kita. Amin…

18. hamba allah. . . . - Oktober 18, 2010

ya allah. . . .lindungi lah kmi dri sgla musibah yg tlah kau berikan,berikanlah ksabaran untuk menghadapi semua ini. . . .
selamat kan lah kami di dunia dan akhirat mu. . .
amiiinn. . . .

19. rickardo - November 28, 2012

bro,,, klu sjarah lubuk buaya ,, apa ceritanya??

20. ksatriafu - Mei 3, 2013

saya adalah korban yg selamat pada peristiwa gempa sumbar 2009,,,tapi naas,,saya harus kehilangan kekasih tercinta saya diadira finance sawahan,,,,,jasadnya ditemukan pada hari jumat pagi tepatnya tgl 02 october 2009,,,saya bnar bnar merasakan betapa kacaunya kota padang waktu itu,,,sehingga saking paniknya saya tidak dapat menyelamatkan kekasih saya sendiri,,,,meski peristiwa itu sudah berlalu, rasa trauma, sedih, masih sering terjadi pada diri saya,,saya rasa butuh waktu seumur hidup untuk melupakan peristiwa itu,,begitu perih dan sakit yang saya rasakan,,saya hnya berharap bencana sperti itu tidak terulang lagi, dan juga kepada pemkot kota padang agar lebih cepat dan tanggap dalam menghadapi bencana,,,jujur saja bnyaknya korban jiwa dikota padang waktu itu termasuk kekasih saya sendiri akibat dari lambatnya bantuan alat alat berat,,,sehingga korban yg terhimpit gedung2 beton itu mati lemas,,,ada yg berjam jam,,,bahkan ada yg berhari hari,,,ini hnya sebagai masukan aja smoga dikemudian hari pemkot kota padang lebih tanggap lagi terutama dalam menanggulangi bencana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: