jump to navigation

Gubernur Si Jali-jali Agustus 12, 2009

Posted by orangmiskin in berita.
1 comment so far

Menjadi gubernur tidak ubahnya seperti lagu Betawi, “ini dia si jali-jali, batangnya tinggi buahnya jarang”. Istilah ini dikatakan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi saat silaturahmi dengan jajaran redaksi Riau Pos Group (RPG) Divre Padang, Selasa 12 Agustus 2009.

Ungkapan gubernur ‘si jali-jali’ ini merujuk pada dipangkasnya wewenang gubernur pasca reformasi. Angin perubahan yang berembus sejak 1998 itu, menempatkan gubernur tidak lagi sebagai sentral di daerah. UU Otonomi daerah No 22/1999 yang kemudian di revisi menjadi UU 32/2004 menasbihkan bupati/wali kota sebagai punggawa di kawasannya masing-masing.

Jika dulu, pada masa Orde baru, bupati/wali kota sebagai anak buahnya gubernur. Bupati membandel, gubernur bisa saja menegurnya atau kalau perlu mencopotnya sekalian. Tapi sekarang itu hanya tinggal kenanganan saja. Entah mana yang lebih tinggi, gubernur atau bupati.

Faktanya, banyak bupati/wali kota yang mengabaikan usulan dan saran gubernur. Meski Pemprov Sumbar mengklaim koordinasi antara gubernur dan 19 bupati dan wali kota di Sumbar, aman-aman saja dan bahkan terbaik se-Indonesia, bukan berarti tanpa adanya gesekan.

Rapat koordinasi (Rakor) yang digelar Pemprov sekali tiga bulan bisa dijadikan indikator. Dalam beberapa kali Rakor, bupati atau wakil bupati Kepuluan Mentawai, tercatat sebagai kepala daerah yang ‘bandel’. Berkali-kali keduanya tidak datang. Alasannya, ombak besar.

Tidak itu saja, hasil Rakor yang mengamanatkan penanaman 100 ribu hektare Kakao juga tidak mulus realisasinya. Tidak semua daerah melaksanakan komitmen itu.

Banyak hal komitmen lainnya yang tidak ditindaklanjuti pemerintah kabupaten atau kota. Soal investasi, pariwisata dan pengentasan kemiskinan misalnya. Karena memang bukan anak buahnya, gubernur hanya bisa mengurut dada, sambil mengenang, jika dulu saya sudah pecat sang bupati ini.

UU otonomi daerah juga mengamatkan kabupaten/bupati sebagai pememgang mandat otonomi. Semua proses perizinan dikeluarkan bupati dan wali kota. Gubernur memang tidak dilarang menggaet investasi swasta, namun hitam putihnya tetap ada di tangan kepala daerah tingkat II itu. Tidak jarang gubernur hanya mengulum ludah, saat investor yang sudah susah payah dirayu, batal menanamkan modalnya, karena bupati dan wali kota acuh tak acuh.

Dengan keterbatasan wewenang itu, tidak salah jika Gamawan Fauzi mengibaratkan jabatan gubernur seperti penggalan lagu asal Betawi itu. Jabatannya tinggi, namun tidak memiliki power.

Namun keterbatasan wewenang itu, tidak harus suksesi pemerintahan di tingkat provinsi ini berakhir. Satu tahun sebelum masa jabatan Gamawan bersama Marlis Rahman (Gamma) berakhir, sejumlah kandidat mulai mengelus arena. Gamawan mengakui sudah didatangi beberapa kandidat gubernur. Ada yang meminta saran, ada yang minta restu dan ada juga yang meminta dukungan.

Kenapa itu bisa terjadi? Agaknya dia melupakan bait pertama dari lagu itu. Ini dia si jali-jali/lagunya enak/ lagunya enak/ merdu sekali/capek sedikit tidak perduli sayang/asalkan tuan/ asalkan tuan/senang di hati/. Biar jadi gubernur Si jali-jali, yang penting hati senang dan syukur-syukur bisa jadi menteri.(nto)

Iklan

Kutemukan Dangau di Matamu April 8, 2009

Posted by orangmiskin in hidup.
1 comment so far

Aku menemukanmu di antara kupu-kupu yang mengitari taman. Duduk sendiri sambil mematut-matut mawar yang mulai mekar. Tangan kananmu memagang parang, mencabuti satu-satu rumput liar yang tumbuh sekeliling bunga warna merah tua itu. Di atas kepalamu, puluhan kupu-kupu terbang.

Kulihat ada dangau di dua matamu. Keteduhan yang selama ini kucari ternyata bersembunyi di sana. Aku tidak lagi takut hujan deras dan panas menyengat. Izinkan aku berteduh, mengibas-ngibaskan baju, menyalakan api, berdiang sambil menatap air yang tak putus-putus menetesi tanah.

Laki-laki masa lalu itu berjalan mondar-mandir. Dijarinya secarik kertas warna ungu muda terselip. Dia berbicara sendiri. Saya menarik langkah, mengunjungi pondok beratap rumbia yang disebutnya sebagai rumah. Selalu sepi di sana.

Di dinding kayu berukir tertempel belasan poster ukuran besar. Sebagian aku kenal sebagai Karl Marx, Hasan Al Banna, Soekarno, Tan Malaka, M Natsir, Adam Smith, Dian Sastro Wardoyo, Zaskia Mecca. Sedang sisanya saya tidak tahu. Lima tahun lalu, laki-laki itu pernah berujar poster itu yang telah mengisi kepalanya, saat saya bertanya siapakah mereka.

Di sudut ruangan saya jumpai ribuan buku tersusun rapi. Dari judulnya saya tahu, dia memiliki koleksi buku filsafat, novel, tafsir al Quran, biografi Budha Gautama, dan beberapa buah komik.

Meski sudah duduk menghadap mesin tik tuanya, dia tidak menghiraukan kehadiran saya. Tidak ada senyum, hanya sebuah lirikan, penanda dia tahu saya hadir. Dia serius, tapi belum pernah saya lihat seserius pagi itu.

Dua telunjuknya sibuk memencet tut-tut mesin tik. Kertas warna ungu itu tidak lagi di jarinya. Tapi sudah dilompati barisan huruf membentuk kata. Saya geser duduk, agar bisa melihat tulisannya lebih dekat.

“Dia tak sengaja ku jumpai. Perempuan sewangi purnama itu hadir tiba-tiba. Dalam pengembaraan malam, kami berpapasan. Dia menunduk, namun tetap ucapkan sapa. Aku sedang melanjutkan jalan ke timur menuju pagi”

Kata-kata tergores di awal catatannya. Dia terus saja menulis. Dentakan jemari mesin tik itu tidak mengganggu kosentrasinya. Dia seperti ekstase, khidmat dan tak bersuara. Urat-urat kepalanya membesar. Saya melihat butir-butir keringat mulai muncul dari pori-pori keningnya.

Kamu menulis novel, saya tanyakan itu.
Tidak, katanya singkat.
Jadi apa
Aku hanya mencatat ingatan. Agar kenangan tidak menguap begitu saja. Aku ingin ini menjadi penanda bahwa laki-laki ini pernah jatuh cinta. Jangan tanyakan siapa dia, karena kamu tahu orangnya.

“Dua ekor bangau putih terbang di atas kepala. Burung berkaki panjang itu hinggap di rumpun padi di depan kami. Seekor kucing berwarna abu-abu mengintai diam-diam. Ketiganya sama-sama waspada. Kami duduk tidak jauh dari mereka. Bersenda gurau, memancing tawa.

Di langit, mendung hitam mulai menutup senja. Aku berdiri mengambil sebongkah lumpur dan melempari tiga binatang itu. Mereka kanget. Dua bangau langsung terbang dan si kucing terlonjak dari pengintaiannya. Ketiganya kabur. Kamu terbahak menatap polah hewan-hewan ini”

Saya tidak lagi duduk, namun berdiri di sampingnya. Dia terus saja menulis.

“Heii.. kamu menutupi cahaya,” dia berseru.

Saya diam. Sadar dia tidak sedang ingin diganggu, saya memilih menjauh. Seperti mula datang, saya pergi perlahan. Angin di bulan April merontokkan ratusan daun dari pohon rambutan yang tumbuh di depan rumahnya. Beberapa helai daun yang menimpa kepala, saya pungut dan bawa pulang.(nto)

Berjalan Bersama Senja Maret 23, 2009

Posted by orangmiskin in 1.
3 comments

layang2

Ket : Bermain layangan. (saidmufti-riaupos)

Malam menjelang. Dua kakinya masih tetap berjalan. Dari tadi sore kami tinggalkan dangau itu. Diseretnya langkah, tanpa menoleh, lalu menghilang di ujung jalan. Timur sudah mulai gelap, namun Barat tawarkan pesona senja.

Saya kejar laki-laki itu. Tak ingin biarkan kesendirian kembali mengisi harinya. Cukup sudah rasa pedih itu. Hidup bukan masa lalu, tapi jalan ke depan yang tidak pernah dapat kita tebak misterinya.

“Kenapa kamu kejar aku,” dia tersenyum.
“Saya takut, sepi kembali gerogoti tawamu,”
“Ha..ha.. ada apa denganmu. Tidakkah kamu lihat aku sedang bahagia. Aku berjalan hanya untuk nikmati senja saja,” dia berujar.

Menggenakan sepatu olah raga berwana hijau muda, laki-laki penggelandang langit itu, berjalan. Tak mau dia percepat langkahnya. Seperti katanya, dia benar-benar ingin menikmati sore yang makin langka itu.

Di barat, matahari makin turun menyentuh horison. Semburat mega menghiasi langit. Angin pelan mendayu-dayu memanggil nelayan menepi. Suara ombak membuaikan anak-anak camar yang mencicit menunggu sang iduk hinggap. Kami susuri garis pantai putih itu lagi.

Saya tatap wajahnya. Tidak lagi tirus. Tidak tampak lagi tonjolan tulang pipi yang selama ini temani wajah lugunya. Mulutnya senandungkan lagu. Saya perkuat pendengaran, namun tak mampu tangkap liriknya. Bibirnya tak henti sunggingkan senyum. Ada bahagia di wajah yang pernah menahan muram masa lalu itu.

Dia terus saja berjalan. Saya bersisian di sebelah kirinya. Dia sangat bahagia. Saya kenal hidupnya, namun saya tidak pernah bisa menebak hatinya. Dia seperti putri malu. Segar di pagi hari, lalu layu begitu panas menerpa. Tapi tak pernah jatuh. Begitu sengat matahari usai dan burung-burung pulang ke sarang, laki-laki itu kembali bangkit.

Saya tahu dia masih saja sendiri. Namun tidak seperti empat bulan lalu, sekarang dia berbeda. Ada gairah di matanya. Ada kehidupan yang mau ditujunya.

“Ada keperempuan dalam sepi itu. Coba kamu dengarkan diamnya. Nikmati setiap detik waktu yang berjalan. Kamu akan tahu betapa nikmatnya hidup tanpa bunyi,” katanya beralasan. Tapi saya tahu bukan itu sebabnya.

Saya yakin dia punya rahasia. Ada sesuatu yang belum diutarakannya. Sesuatu yang kecil, namun saya punya makna besar bagi hidupnya. Sesuatu yang bisa memaksa dua keping bibir itu tersenyum. Saya menunggu ceritanya.

Dipungutnya sepatu olah raga hijau muda yang tadi dicopotnya begitu saja. Dikenakannya perlahan. Dia bangkit, menyeret tubuh menuju ombak yang makin terdengar jelas. Saya juga bersicepat menyusulnya.

Malam sudah dari tadi datang. Laki-laki itu sepertinya sedang bernostalgia dengan langit. Saya biarkan dia berjalan panjang. Dia masih bersenandung. Rasa bahagia itu belum juga diceritakannya.

“Kamu pasti akan tahu. Jangan memaksaku. Seperti sepi, biarkan kunikmati rasa ini sendirian. Untuk sementara waktu saja,” dia memohon.

Saya diam saja. Namun tetap ucapkan syukur. Dia kembali ke kecerian di masa muda kami. Saya makin yakin, waktu bisa menciptakan manusia dewasa. Halangan tak pernah mampu memaksa air berhenti mengalir. Dia akan berbelok, atau perlahan mengorek batu dan melubanginya. Tidak ada yang bisa menahan jiwa yang bebas. Seperti air dia akan mengalir, mengorek dan menuju muara.

 Dia kembali seperti empat tahun silam, saat kami bersama menaklukan jalan-jalan kota ini. Sejak lama, saya yakin dia pasti datang. Seperti sore yang hadir dengan semburat meganya, meski hujan deras mengguyur. Jika tidak di kota ini, di kota lain sunset pasti hadir temani kita.(nto)

Ekspresi Kerisauan Para “Tetua” Maret 22, 2009

Posted by orangmiskin in 1.
add a comment

Sutan Sjahrir

St Sjahrir Berusia Satu Abad

RUANGAN berukuran 10 meter persegi itu diisi sekitar 50 tempat duduk. Satu persatu orang-orang datang, namun hingga acara dimulai hanya 20-an peserta yang hadir. Itu pun tidak banyak anak mudanya. Padahal pokok pembicaraan tokoh pergerakan dan funding father Indonesia Sutan Sjahrir.

Memperingati satu abad St Sjahrir, Masyarakat Sosialis Indonesia menggelar seminar, Sabtu (21/3) lalu. Acara yang dipusatkan di Aula Universitas Bung Hatta ini, menampilkan dua pembicara, yakni Sejarahwan Mestika Zed dan Rushdy Hoesein. Mereka yang didaulat bukan orang sembarangan, keduanya expert di bidangnya masing-masing.

Mestika Zed adalah Dosen Universitas Negeri Padang (UNP) dan Rushdy Hoesein sejarahwan dari Arsip Nasional. Mereka berbicara Manusia Sjahrir dan pergulatan eksistensi Indonesia di Awal Kemerdekaan.

Seminar dimulai dengan pembacaan pengantar singkat oleh ketua Masyarakat Sosialis Indonesia (MSI) Suardi Mahmud. Kepada saya Suardi menyebutkan, MSI didirikan untuk menyebarkan nilai-nilai humanistik Sjahrir kepada masyarakat. Organisasi yang didirikan 27 Juli 2008 ini, berpusat di Bukiktinggi.

“Orang yang bergabung adalah orang-orang yang sepakat dengan Sjahrir. Tapi kami bukan orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia-red). Di masing-masing daerah sudah ada organisasi ini, tapi tidak ada struktur nasionalnya,” kata Suardi. Tokoh berusia sekitar 60 tahunan ini mengaku belum mendata berapa jumlah anggotanya.

Mestika Zed yang diberi kesempatan berbicara pertama, tidak memaparkan banyak hal. Dia lebih sering mengajukan pertanyaan. Warisan Sjahrir terhadap bangsa ini apa? Kenapa generasi hari ini tidak melahirkan pemikiran alternatif seperti Sjahrir?.

Sedang Rushdy Hoesein, memaparkan perjalanan Perdana Menteri (PM) pertama RI ini dari awal hingga akhir hidupnya. Di sana sini diselingi dengan fakta-fakta sejarah yang belum banyak diungkap. Seperti, perjanjian Linggarjati disepakati dengan adanya campur tangan Soekarno-Hatta.

Seminar dua jam lebih itu, banyak diisi dengan kegelisahan peserta dengan tidak terinternalisasinya ajaran-ajaran Sjahrir di masyarakat. Meski diangkat menjadi pahlawan nasional, Sjahrir masih sering disalapahami. Strategi perjuangan diplomasinya, dianggap “pengkhianatan” terhadap revolusi Indonesia.

“Sjahrir memilih Revolusi dengan jalan Intelektual atau diplomasi,” kata Mestika Zed menjawab hal itu.

Salah seorang peserta, Syukri Saad mengatakan ajaran Sjahrir masih relevan, selama kemiskinan dan ketidakadilan masih ada di negeri ini. “Pemikiran Sjahrir akan tetap hidup di pikiran anak muda. Sosialisme kerakyatan akan ada, selama masih ada orang miskin hidup di republik ini,” katanya.

Namun terjadi pembalikan. Pascareformasi, tidak ada lagi generasi muda yang bicara sosial kerakyatan. Caleg-caleg di Pemilu 2009 ini, lebih suka berslogan kosong dan maju tanpa basis masa yang jelas. Di kalangan LSM, juga tidak banyak ditemukan idealisme. Semuanya sudah menjadi mata pencairan. Tidak ada lagi pengabdian.

Peserta lainnya Heri Djamal juga berujar serupa. Dia menyatakan kerisauannya, tidak ada lagi Sjahrir lahir di generasi muda saat ini. Namun, pria berumur 60 tahunan ini juga mempertanyakan relevansi ajaran Sjahrir, disaat sistem ekonomis sosialis di banyak negara ditinggalkan.

Mestika Zed mengakui adanya missing link pemikiran funding father. Bukan saja Sjahrir, namun juga yang lainnya. Menurutnya ada ketidaksinambungan gagasan dan wacana yang dibangun pendiri bangsa dengan generasi hari ini.

“Ini adalah tanggung jawab intelektual dan akademisi,” ujarnya.

Ketidaksinambungan gagasan itulah mungkin penyebab tidak banyaknya anak muda yang hadir di seminar memperingati 100 tahun tokoh pergerakan nasional yang diakui dunia ini. Di luar ruangan, puluhan mahasiswa hilir mudik menatap dua baliho Sutan Sjahrir yang dipasang panitia. Mereka melirik lalu berlalu.

Namu Ketua Panitia Seminar Asbon Budiman Haza, punya jawaban lain. Katanya, peserta yang hadir dalam diskusi seperti itu sudah maksimum. “Buat apa banyak yang hadir, tapi mengambang semuanya. Lebih baik sedikit yang datang, namun memiliki pemahaman. Sjahrir dibahas bukan karena dia hebat, tapi ada sesuatu yang ditinggalkannya,” kata Asbon.(nto)

Khasiat Air Ponari Februari 18, 2009

Posted by orangmiskin in berita.
5 comments

Juragan-juragan semuah,… fenomena khasiat air dukun cilik Ponari telah membius berjuta orang. Bahkan mereka rela ngantri berdesak-desakan, berhari-hari, dari daerah asal yg juauhhh disana, bahkan ada yang mati keinjak-injak segala..sampai akhirnya praktek dukun cilik Ponari harus dihentikan polisi.

Beberapa hari lalu, air comberan rumah ponari puh jadi rebutan. Kemudian, banyak para forumers yang ngusulkan supaya batunya ponari dicelupkan ke telaga atau laut, supaya bisa dimanfaatkan oleh semua orang.

Nah,.. kini harapan itu bukan cuma harapan lagi. Karena kini air berkhasiyat Ponari telah diproduksi masal, dan telah masuk ke rak-rak utama supermarket di seluruh pelosok tanah air,..

Ponari

Ket : Gambar dan tulisan di atas dikirimkan salah satu teman saya lewat email