jump to navigation

Ekspresi Kerisauan Para “Tetua” Maret 22, 2009

Posted by orangmiskin in 1.
trackback

Sutan Sjahrir

St Sjahrir Berusia Satu Abad

RUANGAN berukuran 10 meter persegi itu diisi sekitar 50 tempat duduk. Satu persatu orang-orang datang, namun hingga acara dimulai hanya 20-an peserta yang hadir. Itu pun tidak banyak anak mudanya. Padahal pokok pembicaraan tokoh pergerakan dan funding father Indonesia Sutan Sjahrir.

Memperingati satu abad St Sjahrir, Masyarakat Sosialis Indonesia menggelar seminar, Sabtu (21/3) lalu. Acara yang dipusatkan di Aula Universitas Bung Hatta ini, menampilkan dua pembicara, yakni Sejarahwan Mestika Zed dan Rushdy Hoesein. Mereka yang didaulat bukan orang sembarangan, keduanya expert di bidangnya masing-masing.

Mestika Zed adalah Dosen Universitas Negeri Padang (UNP) dan Rushdy Hoesein sejarahwan dari Arsip Nasional. Mereka berbicara Manusia Sjahrir dan pergulatan eksistensi Indonesia di Awal Kemerdekaan.

Seminar dimulai dengan pembacaan pengantar singkat oleh ketua Masyarakat Sosialis Indonesia (MSI) Suardi Mahmud. Kepada saya Suardi menyebutkan, MSI didirikan untuk menyebarkan nilai-nilai humanistik Sjahrir kepada masyarakat. Organisasi yang didirikan 27 Juli 2008 ini, berpusat di Bukiktinggi.

“Orang yang bergabung adalah orang-orang yang sepakat dengan Sjahrir. Tapi kami bukan orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia-red). Di masing-masing daerah sudah ada organisasi ini, tapi tidak ada struktur nasionalnya,” kata Suardi. Tokoh berusia sekitar 60 tahunan ini mengaku belum mendata berapa jumlah anggotanya.

Mestika Zed yang diberi kesempatan berbicara pertama, tidak memaparkan banyak hal. Dia lebih sering mengajukan pertanyaan. Warisan Sjahrir terhadap bangsa ini apa? Kenapa generasi hari ini tidak melahirkan pemikiran alternatif seperti Sjahrir?.

Sedang Rushdy Hoesein, memaparkan perjalanan Perdana Menteri (PM) pertama RI ini dari awal hingga akhir hidupnya. Di sana sini diselingi dengan fakta-fakta sejarah yang belum banyak diungkap. Seperti, perjanjian Linggarjati disepakati dengan adanya campur tangan Soekarno-Hatta.

Seminar dua jam lebih itu, banyak diisi dengan kegelisahan peserta dengan tidak terinternalisasinya ajaran-ajaran Sjahrir di masyarakat. Meski diangkat menjadi pahlawan nasional, Sjahrir masih sering disalapahami. Strategi perjuangan diplomasinya, dianggap “pengkhianatan” terhadap revolusi Indonesia.

“Sjahrir memilih Revolusi dengan jalan Intelektual atau diplomasi,” kata Mestika Zed menjawab hal itu.

Salah seorang peserta, Syukri Saad mengatakan ajaran Sjahrir masih relevan, selama kemiskinan dan ketidakadilan masih ada di negeri ini. “Pemikiran Sjahrir akan tetap hidup di pikiran anak muda. Sosialisme kerakyatan akan ada, selama masih ada orang miskin hidup di republik ini,” katanya.

Namun terjadi pembalikan. Pascareformasi, tidak ada lagi generasi muda yang bicara sosial kerakyatan. Caleg-caleg di Pemilu 2009 ini, lebih suka berslogan kosong dan maju tanpa basis masa yang jelas. Di kalangan LSM, juga tidak banyak ditemukan idealisme. Semuanya sudah menjadi mata pencairan. Tidak ada lagi pengabdian.

Peserta lainnya Heri Djamal juga berujar serupa. Dia menyatakan kerisauannya, tidak ada lagi Sjahrir lahir di generasi muda saat ini. Namun, pria berumur 60 tahunan ini juga mempertanyakan relevansi ajaran Sjahrir, disaat sistem ekonomis sosialis di banyak negara ditinggalkan.

Mestika Zed mengakui adanya missing link pemikiran funding father. Bukan saja Sjahrir, namun juga yang lainnya. Menurutnya ada ketidaksinambungan gagasan dan wacana yang dibangun pendiri bangsa dengan generasi hari ini.

“Ini adalah tanggung jawab intelektual dan akademisi,” ujarnya.

Ketidaksinambungan gagasan itulah mungkin penyebab tidak banyaknya anak muda yang hadir di seminar memperingati 100 tahun tokoh pergerakan nasional yang diakui dunia ini. Di luar ruangan, puluhan mahasiswa hilir mudik menatap dua baliho Sutan Sjahrir yang dipasang panitia. Mereka melirik lalu berlalu.

Namu Ketua Panitia Seminar Asbon Budiman Haza, punya jawaban lain. Katanya, peserta yang hadir dalam diskusi seperti itu sudah maksimum. “Buat apa banyak yang hadir, tapi mengambang semuanya. Lebih baik sedikit yang datang, namun memiliki pemahaman. Sjahrir dibahas bukan karena dia hebat, tapi ada sesuatu yang ditinggalkannya,” kata Asbon.(nto)

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: