jump to navigation

Yang Setia Pada Hidup Juli 13, 2008

Posted by orangmiskin in hidup.
Tags: , , , , ,
trackback

Bendi

Hari mulai merambati sore. Kawasan Pasar Raya Padang makin disesaki pengunjung. Di Jalan Sandang Pangan, mobil, sepeda motor dan orang-orang membaur menjadi satu. Klakson angkot dan gemercingan lonceng Bendi membentuk irama yang kontras. Sebentar lagi malam.

Syafril (49) tahun duduk berselonjor diatas bendi kepunyaannya yang di “parkir” di kiri Jalan Sandang Pangan itu. Kedua kakinya diluruskan kedepan, menyiratkan kecapekan bekerja seharian. Sesekali matanya menyapu seluruh jalanan, berharap ada penumpang yang berniat memanfaatkan jasanya.

Cukup lama saya ini mengamati, sebelum memutuskan mendekati bapak dengan lima orang anak ini. Syafril merupakan satu dari limapuluh kusir bendi yang mangkal di tempat itu. Dia termasuk generasi tua diantara para kusir. Ini diakui sendiri rekan-rekannya.

“Samo bapak itu se lah. Apak tu lah lamo jadi tukang bendi. Ambo barunyo,” kata salah seorang kusir menunjuk Syafril. Awalnya saya berniat memwawancarinya.

Syafril bercerita, dia sudah menjadi kusir bendi sejak 25 tahun silam. Sebelum menekuni pekerjaan itu, dia adalah seorang nelayan. Bosan di laut, dia pindah ke darat. “Lah litak lo jadi nelayan, dicubo-cubo lo ka bendi,” katanya.

Zaman memang memang berubah. Banyak hal yang tergerus, tidak terkecuali bendi. Sejak lima tahun silam jumlah bendi yang mangkal di tempat itu terus berkurang. Sekarang hanya tinggal 50 saja, padahal sebelumnya pernah mencapai 150 unit.

Kalah bersaing dengan Angkot dan kendaraan bermotor lainnya, menjadi penyebab utama makin hilangnya kendaraan kaum priyayi jaman dulu ini. Setidaknya ini tergambar dari pendapatan Syafril sebagai kusir. Setiap hari sejak pukul 7.00 Wib sampai 19.00 Wib, dia hanya bisa memperoleh pendapatan Rp 40 ribu saja.

“Kini agak tatolong dek orang libur. Lai ndak sampai lamo manunggu panumpang do. Kalau lah habis libur ko, bisa-bisa 2 jam lalok-lalok se manunggu panumpang,” jelasnya.

Dia tidak mematok tarif, baik saat membawa penumpang atau barang. Semuanya tergantung negosiasi antara penumpang dengan pemilik Bendi. Dalam sehari biasanya dia bisa mengangkut 5-6 kali penumpang. Dia tidak tahu sampai berapa tahun akan bertahan melakoni profesi yang telah membesarkan anak-anaknya.

Hari makin sore. Sinar mentari keemasan menerobos daun pohon seri yang berada di belakangnya. Di jalanan, klakson kendaraan bermotor saling bersahutan dengan mobil-mobil pribadi. Orang-orang makin sesak. Syafril belum juga memperoleh penumpang. Di depannya, angkot-angkot dipenuhi warga yang pulang ke kedamaian rumah masing-masing.

Seperti halnya Syafril, Djanar (64) juga setia menjadi supir bemo puluhan tahu. Selama 32 lebih, bemo tua itu setia menemaninya. Perjuangan kerasnya melakoni hidup tergambar jelas di guratan-guratan kening lelaki tua ini.  “Apak tidua sabanta dek panumpang sadang langang bana kini”, ungkapnya lirih.

Djanar mangkal disekitar jalan sandang pangan juga, tidak jauh dari tempat Syafril. Saat itu siang menjelang sore. Matahari sedang panas-panasnya. Beberapa sopir bemo asyik melakoni aktifitas masing-masing, menunggu penumbang menghampiri mereka. Ada yang bermain catur, berceloteh bersama rekan-rekan dan tidak sedikit yang tertidur di atas becak yang juga terparkir tidak jauh dari bemo mereka.

Dia mengaku telah menjani profesi itu sejak 1974. Sebelum menjadi supir kendaraan roda tiga ini, Djanar sempat menekuni berbagai pekerjaan lainnya. Laki-laki tua dengan empat orang anak ini sekarang hanya tinggal berdua dengan istrinya di Jalan Jeruk No 35 Blok E Belimbing Padang. Keempat anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah mereka masing-masing.

“Kini apak tingga baduo se jo ibuk, anak-anak lah pado bakaluarga,” ucapnya tabah. Tidak ada kesedihan yang tergambar dari ucapannya. Agaknya waktu telah mengubah laki-laki tua ini menjadi begitu sabar menghadapi persoalan hidup.

Menjadi orang kecil harus siap dengan pendapatan pas-pasan. Demikian halnya dengan Djanar. Sejak kendaraan ini digusur angkot, bus kota dan sekarang ojek, penumpangnya makin sepi. Pendapatannya pun menurun, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Apalagi dia bukan pemilik bemo itu.

“Dulu bisa dapek Rp 75 ribu tiok harinyo, tapi sajak banyaknya tukang ojek paling banyak dapek Rp 30 ribu se lai,” ujarnya.

Diusianya yang sudah kepala enam, Djanar tetap setia mengendarai bemonya, melewati kelok-kelok jalan kota yang berdebu. Tiap guratan garis keningnya menjadi saksi bisu kerasnya perjuangan hidup dalam menghadapi dunia yang tidak lagi ramah. (nto)

Iklan

Komentar»

1. vinnamelwanti - Juli 15, 2008

Foto Syafrilnya mana???

2. afriant piliang - Agustus 13, 2012

afrianto Bin syafril

saya sedang mencari kabar keluarga di lima kaum…anggota keluarga saya juga supir bendi yg bernama wan pontong dari datuak simarajo

suku ayah saya piliang…beliau sudah meninggalkan tanah kelahirannya sejak 1984 sampai skrg belum dpt kabar keluarga disana..

mohon bantuan dari warga sana yg mengenal keluarga kami

atas perhatiannya
saya ucapkan trima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: