Kutemukan Dangau di Matamu April 8, 2009
Posted by orangmiskin in hidup.trackback
Aku menemukanmu di antara kupu-kupu yang mengitari taman. Duduk sendiri sambil mematut-matut mawar yang mulai mekar. Tangan kananmu memagang parang, mencabuti satu-satu rumput liar yang tumbuh sekeliling bunga warna merah tua itu. Di atas kepalamu, puluhan kupu-kupu terbang.
Kulihat ada dangau di dua matamu. Keteduhan yang selama ini kucari ternyata bersembunyi di sana. Aku tidak lagi takut hujan deras dan panas menyengat. Izinkan aku berteduh, mengibas-ngibaskan baju, menyalakan api, berdiang sambil menatap air yang tak putus-putus menetesi tanah.
Laki-laki masa lalu itu berjalan mondar-mandir. Dijarinya secarik kertas warna ungu muda terselip. Dia berbicara sendiri. Saya menarik langkah, mengunjungi pondok beratap rumbia yang disebutnya sebagai rumah. Selalu sepi di sana.
Di dinding kayu berukir tertempel belasan poster ukuran besar. Sebagian aku kenal sebagai Karl Marx, Hasan Al Banna, Soekarno, Tan Malaka, M Natsir, Adam Smith, Dian Sastro Wardoyo, Zaskia Mecca. Sedang sisanya saya tidak tahu. Lima tahun lalu, laki-laki itu pernah berujar poster itu yang telah mengisi kepalanya, saat saya bertanya siapakah mereka.
Di sudut ruangan saya jumpai ribuan buku tersusun rapi. Dari judulnya saya tahu, dia memiliki koleksi buku filsafat, novel, tafsir al Quran, biografi Budha Gautama, dan beberapa buah komik.
Meski sudah duduk menghadap mesin tik tuanya, dia tidak menghiraukan kehadiran saya. Tidak ada senyum, hanya sebuah lirikan, penanda dia tahu saya hadir. Dia serius, tapi belum pernah saya lihat seserius pagi itu.
Dua telunjuknya sibuk memencet tut-tut mesin tik. Kertas warna ungu itu tidak lagi di jarinya. Tapi sudah dilompati barisan huruf membentuk kata. Saya geser duduk, agar bisa melihat tulisannya lebih dekat.
“Dia tak sengaja ku jumpai. Perempuan sewangi purnama itu hadir tiba-tiba. Dalam pengembaraan malam, kami berpapasan. Dia menunduk, namun tetap ucapkan sapa. Aku sedang melanjutkan jalan ke timur menuju pagi”
Kata-kata tergores di awal catatannya. Dia terus saja menulis. Dentakan jemari mesin tik itu tidak mengganggu kosentrasinya. Dia seperti ekstase, khidmat dan tak bersuara. Urat-urat kepalanya membesar. Saya melihat butir-butir keringat mulai muncul dari pori-pori keningnya.
Kamu menulis novel, saya tanyakan itu.
Tidak, katanya singkat.
Jadi apa
Aku hanya mencatat ingatan. Agar kenangan tidak menguap begitu saja. Aku ingin ini menjadi penanda bahwa laki-laki ini pernah jatuh cinta. Jangan tanyakan siapa dia, karena kamu tahu orangnya.
“Dua ekor bangau putih terbang di atas kepala. Burung berkaki panjang itu hinggap di rumpun padi di depan kami. Seekor kucing berwarna abu-abu mengintai diam-diam. Ketiganya sama-sama waspada. Kami duduk tidak jauh dari mereka. Bersenda gurau, memancing tawa.
Di langit, mendung hitam mulai menutup senja. Aku berdiri mengambil sebongkah lumpur dan melempari tiga binatang itu. Mereka kanget. Dua bangau langsung terbang dan si kucing terlonjak dari pengintaiannya. Ketiganya kabur. Kamu terbahak menatap polah hewan-hewan ini”
Saya tidak lagi duduk, namun berdiri di sampingnya. Dia terus saja menulis.
“Heii.. kamu menutupi cahaya,” dia berseru.
Saya diam. Sadar dia tidak sedang ingin diganggu, saya memilih menjauh. Seperti mula datang, saya pergi perlahan. Angin di bulan April merontokkan ratusan daun dari pohon rambutan yang tumbuh di depan rumahnya. Beberapa helai daun yang menimpa kepala, saya pungut dan bawa pulang.(nto)






Orang miskin, mana karya2 selanjtnya?
Sombong euy mentang2 udah jadi orang kaya sekarang…