jump to navigation

Berjalan Bersama Senja Maret 23, 2009

Posted by orangmiskin in 1.
trackback

layang2

Ket : Bermain layangan. (saidmufti-riaupos)

Malam menjelang. Dua kakinya masih tetap berjalan. Dari tadi sore kami tinggalkan dangau itu. Diseretnya langkah, tanpa menoleh, lalu menghilang di ujung jalan. Timur sudah mulai gelap, namun Barat tawarkan pesona senja.

Saya kejar laki-laki itu. Tak ingin biarkan kesendirian kembali mengisi harinya. Cukup sudah rasa pedih itu. Hidup bukan masa lalu, tapi jalan ke depan yang tidak pernah dapat kita tebak misterinya.

“Kenapa kamu kejar aku,” dia tersenyum.
“Saya takut, sepi kembali gerogoti tawamu,”
“Ha..ha.. ada apa denganmu. Tidakkah kamu lihat aku sedang bahagia. Aku berjalan hanya untuk nikmati senja saja,” dia berujar.

Menggenakan sepatu olah raga berwana hijau muda, laki-laki penggelandang langit itu, berjalan. Tak mau dia percepat langkahnya. Seperti katanya, dia benar-benar ingin menikmati sore yang makin langka itu.

Di barat, matahari makin turun menyentuh horison. Semburat mega menghiasi langit. Angin pelan mendayu-dayu memanggil nelayan menepi. Suara ombak membuaikan anak-anak camar yang mencicit menunggu sang iduk hinggap. Kami susuri garis pantai putih itu lagi.

Saya tatap wajahnya. Tidak lagi tirus. Tidak tampak lagi tonjolan tulang pipi yang selama ini temani wajah lugunya. Mulutnya senandungkan lagu. Saya perkuat pendengaran, namun tak mampu tangkap liriknya. Bibirnya tak henti sunggingkan senyum. Ada bahagia di wajah yang pernah menahan muram masa lalu itu.

Dia terus saja berjalan. Saya bersisian di sebelah kirinya. Dia sangat bahagia. Saya kenal hidupnya, namun saya tidak pernah bisa menebak hatinya. Dia seperti putri malu. Segar di pagi hari, lalu layu begitu panas menerpa. Tapi tak pernah jatuh. Begitu sengat matahari usai dan burung-burung pulang ke sarang, laki-laki itu kembali bangkit.

Saya tahu dia masih saja sendiri. Namun tidak seperti empat bulan lalu, sekarang dia berbeda. Ada gairah di matanya. Ada kehidupan yang mau ditujunya.

“Ada keperempuan dalam sepi itu. Coba kamu dengarkan diamnya. Nikmati setiap detik waktu yang berjalan. Kamu akan tahu betapa nikmatnya hidup tanpa bunyi,” katanya beralasan. Tapi saya tahu bukan itu sebabnya.

Saya yakin dia punya rahasia. Ada sesuatu yang belum diutarakannya. Sesuatu yang kecil, namun saya punya makna besar bagi hidupnya. Sesuatu yang bisa memaksa dua keping bibir itu tersenyum. Saya menunggu ceritanya.

Dipungutnya sepatu olah raga hijau muda yang tadi dicopotnya begitu saja. Dikenakannya perlahan. Dia bangkit, menyeret tubuh menuju ombak yang makin terdengar jelas. Saya juga bersicepat menyusulnya.

Malam sudah dari tadi datang. Laki-laki itu sepertinya sedang bernostalgia dengan langit. Saya biarkan dia berjalan panjang. Dia masih bersenandung. Rasa bahagia itu belum juga diceritakannya.

“Kamu pasti akan tahu. Jangan memaksaku. Seperti sepi, biarkan kunikmati rasa ini sendirian. Untuk sementara waktu saja,” dia memohon.

Saya diam saja. Namun tetap ucapkan syukur. Dia kembali ke kecerian di masa muda kami. Saya makin yakin, waktu bisa menciptakan manusia dewasa. Halangan tak pernah mampu memaksa air berhenti mengalir. Dia akan berbelok, atau perlahan mengorek batu dan melubanginya. Tidak ada yang bisa menahan jiwa yang bebas. Seperti air dia akan mengalir, mengorek dan menuju muara.

 Dia kembali seperti empat tahun silam, saat kami bersama menaklukan jalan-jalan kota ini. Sejak lama, saya yakin dia pasti datang. Seperti sore yang hadir dengan semburat meganya, meski hujan deras mengguyur. Jika tidak di kota ini, di kota lain sunset pasti hadir temani kita.(nto)

Komentar»

1. Devi Isman - Maret 24, 2009

Setuju..
Hidup itu adalah misteri.

2. Devi Isman - Mei 3, 2009

Hmm..
Keren juga tuh gambarnya.
Bwat sambungannya dunk!

3. Chandra - Agustus 18, 2009

Jadi ingat masa lalu tu?
he..he..he..he… lagi dimana tu?