jump to navigation

Lesapnya Rinai Desember Desember 24, 2008

Posted by orangmiskin in hidup.
trackback

Berharap menunggu rinai, yang datang justru hujan deras.

Desember makin melaju. Sekarang sedang pertengahan bulan. Tahun 2009 mulai membayangi langkah kakinya. Tidak ada satu orang pun yang bisa menahan lajunya waktu. Dia begitu perkasa, menundukkan kita, alam dan Tuhan kalau saja dia bukan Yang Maha Berkuasa.

Laki-laki itu diam menatap awan yang makin gelap. Langit-langit dangau kecil tempat dia berteduh tiris. Butiran hujan menelusup satu-satu dari atap jerami yang terpapar di atas kepala. Mulanya dia tersenyum. Rinai Desember akhirnya datang. Ada seraut kegembiraan di wajahnya yang makin tirus.

Kalau saja kacamata minus itu tidak lagi bertengger di hidungnya, mungkin sulit mengenali laki-laki yang pernah mengisi otaknya dengan puluhan tokoh dunia itu. Rupanya tidak lagi setegar dulu, saat langkah tegapnya menaklukan separuh jalan-jalan kota ini. Dia adalah singa jalanan.

Sekarang dia selalu sendirian. “Sepi ku makin kronis. Aku rasa tak sanggup lagi bertahan. Rasa-rasanya akan kuterjuni senyap ini. Menyatu dengannya. Biar abadi,” dia berguman tak menoleh ke mana pun.

Saya datang, saat matahari siang tersembunyi di balik awan hitam. Desember memang aneh. Panas dan mendung berkelahi saling mengalahkan. Senyumnya masih mengambang, lalu mendadak hilang. Rinai Desember yang diharapkannya lesap ditelan derasnya hujan. Dia kembali kecewa.

Sudah seperempat bulan dia datangi dangau beratap rumbia, tempat perempuan selembut mawar itu memutuskan pergi. Dia masih berharap rinai datang membawanya pulang.

“Masihkan ada harapan,” dia tanya saya yang duduk diam. Saya jawab dengan senyuman. Takut dia kecewa. “Selalu ada harapan. Bukankah dia pernah berkata, hanya Tuhan yang tahu bagaimana cerita ini diakhiri,” saya coba juga menghibur hatinya.

Ombak sore menderu kencang. Angin menghempaskan pohon nyiur yang berdiri kokoh di pantai itu. Alam sedang tidak bersahabat. Kita menunggu kapan kemarahan sang Gaia itu reda. Sudah dua minggu terakhir, langit tak henti mencurahkan air.

“Sudah ku jumpai banyak perempuan lain. Tapi tidak ada yang bisa menandinginya. Ku suka bukan pada raut wajahnya, tapi pada segumpal daging di dalam dada dan kepalanya. Aku suka pada kecerdasan dan hatinya,” kata itu sudah saya dengar berkali-kali.

Dangau mungil itu tiba-tiba menjadi ramai. Orang-orang berteduh dan pejalan kaki berhenti. Lamat-lamat terdengar “Goodbye My Lover” yang dibawakan James Blunt

You touched my heart you touched my soul.
You changed my life and all my goals.
And love is blind and that I knew when,
My heart was blinded by you.
I’ve kissed your lips and held your hand.
Shared your dreams and shared your bed.
I know you well, I know your smell.
I’ve been addicted to you.

Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.

“Kawan sanggupkah saya ucapkan kata itu,” disimpannya tanya itu di sela-sela jari saya, saat kami bersalaman pamit seusai hujan. (nto)

Komentar»

1. medapri - Januari 9, 2009

Huehehe…
Basobok lo liak di alam maya…
Baa kaba tuw???

2. alina - Januari 14, 2009

aaa….
anto. itu theme song wak lo tu.
kok samo???

Did I disappoint you or let you down?
Should I be feeling guilty or let the judges frown?
‘Cause I saw the end before we’d begun
Yes I saw you were blinded and I knew I had won
It may be over but it won’t stop there
I am here for you if you’d only care
You touched my heart, you touched my soul
You changed my life and all my goals
And love is blind and that I knew when
My heart was blinded by you

I am a dreamer and when I wake
You can’t break my spirit – it’s my dreams you take
And as you move on, remember me
Remember us and all we used to be
I’ve seen you cry, I’ve seen you smile

I know your fears and you know mine
We’ve had our doubts but now we’re fine
And I love you, I swear that’s true

And I still hold your hand in mine
In mine when I’m asleep
And I will bare my soul in time
When I’m kneeling at your feet

I’m so hollow, baby, I’m so hollow

3. renimaldini - Januari 16, 2009

saya tak suka dengan lagu ini (kecuali dengan liriknya…)

Karena yang nyanyi lebai bangeeeeeeet…
kayak orang mau mati aja…
Apalagi kalo anto alah sato pulo manyanyi,, deh… litak mandanga jadi nyo…
ha.. ha…

4. Aristiono Nugroho - Januari 30, 2009

Wah keren tuh, narasinya.
Ada dua hal yang mengakibatkan wanita dikagumi, yaitu otak dan hatinya.
Tapi jangan dimutilasi, yaa…
Melainkan, diajak diskusi,
tentang kontribusi di tanggal terakhir kehidupan kita.
Untuk selingan, silahkan mampir ke “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com.
Mau nge-link juga boleh.

5. sigombak - Februari 4, 2009

Basah kuyup donk…??

6. dayu ngegurat jagad - Februari 22, 2009

Coba pejamkan mata tanya dalam hati.
Coba belajar jujur tentang rasa di hati.
Kalau pakai hati maka akan terasa di hati.

Tulisannya bagus…