Derita di Idul Adha Desember 10, 2008
Posted by orangmiskin in 1.trackback
Hujan begitu deras mengguyur. Sejak Sabtu hingga Minggu, langit Padang tidak henti-hentinya mencurahkan air. Hujan berwana keperakan itu melompat-lompat gembira di jalanan beraspal.
Saya yang sejak Sabtu siang berencana pulang kampung, terpaksa mengurungkan niat. Hujan menghalangi semua rencana. selama dua hari penuh, saya maharam di rumah. Tidur, nonton tv, lalu tidur lagi, bangun dan nonton TV kembali.
Tidak ada yang lebih nikmat, selain bisa berkumpul bersama keluarga di hari raya. Semacam tradisi tak tertulis di keluarga kami, setiap lebaran keluarga besar berkumpul bersama, bercerita dan ketawa. Dan hari itu, saya sudah melanggar tradisi.
Hujan terus mengguyur tidak putus-putus. Rencana pulang di Minggu pagi, tidak teralisasi. Hujan mendeyar-deyar hingga malam. Saya hanya bisa katakan maaf, saat orang tua menelpon.
“Kok kamu ndak pulang. Padahal amak lah buek lamang tapai kesukaanmu. Besok-besok ndak ka den buek tapai lai do,” ibu saya dan nenek berciloteh marah.
“Maaf, hujan labek. Ndak bisa kalua do Ma..Naik motor ndak mungkin, kalau jo bus..ndak bisa do,” saya memelas, kasih alasan.
Saya menyukai hujan. Bukan saja mengingatkan masa kecil, saat saya berlarian di lapangan, mandi hujan. Tapi hujan memberikan ketenangan. Coba dengarkan desau anginnya. Perhatikan langit gelapnya. Renungkan bunyi dentangan butir-butir air menyentuh atap rumah. Coba tenggadahkan wajah dan nikmati juga terpaannya.
Di keindahan hujan itu, tersimpan banyak cerita. Di denting suaranya ada kisah dan pengharapan. Makanya tak heran, jika teman kantor memilih pulang malam lebih cepat jika hujan mengguyur. “Hari rancak,” katanya sambil tersenyum simpul.
Makin malam hujan makin deras. Saya yang kelaparan di malam takbiran Idul Adha itu, terpaksa meraih mantel dan nyelonong menebas hujan deras.
Untung saja di hari pelaksanaan Shalat Ied, langit cerah dan matahari tak terlalu membakar kulit. Sepertinya, alam sengaja memberikan kesempatan umat Islam melaksanakan shalat. Langit yang semalamam begitu gelap, mendadak cerah. Itulah keajaiban.
Saya yang tidak bisa melewati kebersamaan Idul Adha dengan keluarga, harus menderita dua kali lipat. Karena lebaran, semua warung nasi di sekitaran tempat kost mendadak tutup.
Setelah memutari separuh pusat Kota Padang, saya menemukan rumah makan di depan gerbang RS M Jamil Padang. Siang hari, terpaksa saya habiskan di sana.
“Saya akan pulang di penghujung minggu ini. Semoga tidak ada halangan,” saya kirimkan SMS itu kepada orang tua di kampung halaman, tempat ombak saling mendahului. (nto)






wooo…lebaran kemaren, sama, ga bisa pulang. menyedihkan, nyari makan kemana2 ga ada. kampungnya harus nyebrang pulau pula
OOT:
ma kasih udah main ke tempatku.
di padang? jurnalis? salam kenal juga
mau lanjut liat blog-nya yang lain.
nto…nto….
dinikmati aja mas…..heeheheh
hi anto……….
sibuk ngedit berita yo………..
nto, baa caronyo buek counter hit (jumlah pengunjung seperti punyo bang toy yg anto buekkan dulu…ciek lai baa caronyo ma isi foto dalam foto bucket…lah lupo bang toi….tolong ciek yo…bang toy ka buek wordpress baru…mantap gaya tampilan kini mah…pakai salju…
Waaa….Kalo lebaran Idul Adha tanpa keluarga, dah biasa Nto…Slama tinggal di Padang ini baru sekali lebaran ma ortu. Itu pun lebaran sekrg…He he..
Namanya juga hari berkorban…Ya ga…
kacian bana waang………..
ndak ado sapo2
ka siko la……….
cm mw kecek2……..de-eL ( derita loe )
hahahahahahahaha
(baru baca)
Ahh.. aq mah dah biasa Lebaran Idul Adha ga breng Ortu (berat diongkos euy).
Tapi untungnya sahabat2 aq di Bdg udah kyk klrg sendiri.
Idul Adha kemarin aq diundang bakar2 sate di rumah salah seorang sahabat aq, Kiky..
(makan daging kurban jg dey akhirnya).