Nasionalisme Itu (ternyata) Masih Ada Agustus 17, 2008
Posted by orangmiskin in 1.Tags: Nasionalisme masih ada, Upacara hut ri ke 63
trackback
Lebih delapan tahun saya tidak lagi mengikuti upacara detik-detik proklamasi. Dulu saat masih SMA, sekolah kami selalu menjadi langganan peserta upacara yang dilakukan di halaman kantor camat. Semua siswa dikerahkan sebagai peserta. Alhasil, selama tiga tahun, momen itu tidak pernah saya lewatkan.
Ritual tahunan tersebut terhenti delapan tahun silam. Saat saya sudah menjadi mahasiswa, tidak pernah lagi ada kegiatan upacara bendera. Kalau kadar nasionalisme diukur dari seberapa sering kita ikut upacara, saya yakin nasionalisme siswa-siswa sekolah, lebih besar dari mahasiswa. Aneh juga ya..mahasiswa, yang konon kabarnya pembela bangsa, justru tidak ikut lagi memperingati tonggak kelahiran bangsa ini.
Mungkin karena itu juga, satu demi satu sila-sila Pancasila menghilang dari ingatan saya. Demikian halnya dengan teks Proklamasi, Pembukaan UUD 1945. Ketiganya sering kali tercampur aduk. Saya tidak ingat isinya, karena memang tidak lagi menghapalnya. Wajar, sebab selama ini kita hanya disuruh menghapal, tidak mengenal makna.
Saya pikir Nasionalisme saya sudah luntur. Nyatanya belum. Dalam upacara detik-detik proklamasi HUT RI ke 63 di Kantor Gubernur Sumbar, saya serasa menemukan rasa itu lagi. Saat teks proklamasi dibacakan, saya merinding. Saat Lagu Indonesia Raya dikumandangkan, saya mengikutinya dalam pelan. Menggerakan bibir juga. Ternyata Nasionalisme itu masih ada.
Susah memang mengukur rasa Nasionalisme. Namun ada indikatornya. Jika jantung anda masih bergetar saat Pancasila dibacakan, atau Teks Proklamsi mengudara, artinya masih ada rasa itu. Seperti orang beriman yang jika dibacakan ayat-ayat Allah bergetar dadanya, seperti itu juga Nasionalisme saya kira. (nto)






Hiks2x sedih.. kayaknya nasionalismeku harus dipertanyakan kembali mas. getaran di dadaku dah hampir ilang
salam nasionalisme aja kang
Ketika Lagi Indonesia Raya dikumandangakan dan Teks Proklamasi dibacakan lagu, pasti ada rasa haru dan merinding…Malah ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan malah mata berkaca-kaca tapi tak bisa menetaeskan air mata, seperti ketika melihat upacara 17 di televisi, Ibu Ani Yudoyono matanya berkaca-kaca setelah sang saka Merah
Dan saya yakin rasa nasionalisme masih ada dlm diri saya, karena ketika Indonesia Raya berkumandang di Beijing saat pasangan ganda meraih medali emas, saya di rumah ikutan nangis dan terharu..
MERDEKA… Semoga rasa nasionalisme tak pernah luntur dari generasi muda sekarang!!!
Merinding dengar teks Proklamasi diucapkan dengan khidmat, apalagi kalau dengar rekaman aslinya, bayangkan keberanian proklamator kita mengambil keputusan memerdekakan bangsa ditengah ancaman penjajahan, sungguh memerlukan kekuatan bathin dan nyali tinggi…
Selamat Da, sudah merasakan lagi getaran nasionalisme itu, sungguh sangat bermakna karena apa yang kita peroleh sekarang merupakan pengorbanan jiwa ribuan patriot Indonesia….
Salam kenal, awak samo jo Uda, urang Tarusan…
Wass