jump to navigation

Ngemis Demi Hidup Agustus 15, 2008

Posted by orangmiskin in hidup.
Tags: , ,
trackback

Pengemis smpang 4

Kepelikan membuat orang melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mengemis yang selama ini dianggap tabu, terpaksa dijalani demi menghidupi keluarga dan anak-anak. Sementara waktu rasa malu harus dikesampingkan.

“Sebenarnya malu, tapi bagaimana lagi. Saya terpaksa mengemis biar anak-anak saya tetap bisa hidup dan sekolah,” kata Devi (34), salah seorang pengemis yang biasa beroperasi di perempatan lampu merah Pasar Raya, persis di depan Rumah Sakit Asyiah Jalan Agus Salim Padang. Dia berbicara dalam bahasa Minang.

Lebih tigapuluh menit saya mengamati wanita beranak empat ini, sebelum mendekatinya. Dia bergerak di sela-sela kendaran roda empat dan sepeda motor. Di pangkuannya kirinya, terlelap Tegar (8 bulan), anak ketiganya. Sedang ditangan kanan, Devi memegang sebuah ember kecil berwarna hijau.

Devi adalah salah seorang pengemis, yang sejak beberapa tahun terkahir ini terus membanjiri Kota Padang. Mereka ada di setiap perempatan jalan di kota ini. Bergerak lincah begitu lampu merah menyala, tidak peduli bahaya tertabrak kendaraan mengancam setiap saat.

Mereka tidak saja orang tua, orang cacat, tapi juga anak-anak dan wanita muda seperti Devi. Peliknya kehidupan memaksa mereka mengalihkan pandangan ke jalanan, menjadi pengemis. Sebuah profesi ironi di Ranah Minang yang dikenal dengan kuatnya perekat adat, agama dan sistim tanah ulayat.

Devi 34 tahun, mengaku menjadi pengemis sejak satu tahun silam. Wanita muda ini berasal dari Tapan Kabupaten Pesisir Selatan. Kulitnya hitam legam, karena setiap hari mulai pukul 12.00 Wib sampai pukul 18.00 Wib, dia bergumul dengan debu dan asap kendaaraan bermotor.

Lagi-lagi soal tuntutan hidup menjadi alasan utama turun ke jalan. Devi bercerita, sebelum menjadi pengemis dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Hidup dengan empat orang anak dan suami. Petaka terjadi, saat sang suami memilih menikah lagi dan meninggalkan mereka anak beranak itu.

Hidup tanpa suami dan empat anak yang masih kecil, Devi harus memutar otak memenuhi kebutuhan hidup. Keputusan berada di jalanan muncul setelah dia menikah laki dengan seorang laki-laki tunanetra yang juga seorang pengemis di belakang Kantor Pos Padang. Saat ini dia juga sedang mengandung anak ke lima dari suami keduanya itu.

“Di jalan untuk bantu-bantu saja. Tidak mungkin mengandalkan dari suami. Apalagi kami berempat,” kata Devi, saat saya tanyakan apakah dia dipaksa sang suami untuk mengikuti jejaknya.

Sisa-sisa masa muda masih terlihat jelas di wajahnya. Memandang perawakan wanita ini, kita bisa menebak kalau dia termasuk wanita yang mengikuti perkembangan jaman dimasa muda. Samar-samar terlihat tiga tato berbentuk tahi lalat berwana biru di wajahnya. Tato mungil yang ada di dahi, pipi, dan dagu ini tersamarkan oleh warna kulitnya yang hitam tersengat matahari.

Selama 15 menit bersama Devi, berkali-kali dia memadang kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala. Dia mungkin sedang menghitung peluang yang terbuang. Tegar yang dari awal terlelap, menggeliat dan membuka matanya. Dengan cepat, Devi menyorongkan “kompeng” warna merah ke mulut bocah mungil ini.

Tegar, seperti namanya. Anak ketiga Devi ini sejak kecil sudah ada di jalanan. Mengisap debu, tertimpa terik mentari dan menggeliat diantara asap kendaraan. Seperti ibunya, seluruh kulit balita ini juga hitam legam. Panas membakarnya. Bukan itu saja terlihat jelas lipatan kekeriputan di kaki dan lengannya, sebuah tanda kalau dia termasuk balita kurang gizi.

“Kadang-kadang dia juga sakit. Namun sekali saja dibawa ke dokter sembuh. Kalau Tegar sedang sakit, saya tidak di jalan,” kata Devi sambil mengusap kepala Tegar yang terbungkus topi bayi berwana biru muda.

Setahun lebih mengemis, Devi dua kali sudah tergaruk operasi Polisi Pamong Praja. Dua kali ditangkap Pol PP dan dinasehati untuk tidak lagi di jalan, tidak mampu menghalanginya untuk tidak kembali mengemis. Terpaksa dan demi anak-anak, alasannya.

Mengemis bukan pekerjaan pokok bagi Devi. Sebelum datang ke perempatan Pasar Raya itu, Devi bekerja sebagai tukang cuci di salah satu rumah tetangganya di Kawasan Simpang Haru. Tapi upah yang didapatkannya tidak sebanding dengan pengeluaran sebulan. Apalagi Devi sekeluarga tinggal di rumah kontrakan.

Tidak berniatkah pulang kampung dan hidup sebagai petani di Tapan? Devi mengatakan, sejak dulu dia mau hidup di kampung halamannnya. Namun kondisi keluarga besarnya juga tidak terlalu baik. Saudaranya adalah seorang buruh tani di sana.

“Saat ini yang terfikirkan adalah dapat bantuan modal seperti yang ditulis di koran-koran. Kalau itu bisa saya ingin membuka warung kecil-kecilan. Capek sebenarnya di Jalan,” ungkap Devi. “Saya tidak tahu sampai kapan akan mengemis,”

Begitu lampu merah untuk kesekian kalinya menyala, Devi tidak tahan lagi. Bahasa tubuhnya meyiratkan itu. Dia berjalan bergegas, memangku Tegar dan menjinjing ember plastik kecil di tangan kanannya. Menyusuri sela-sela kendaraan, seorang pria separuh baya di atas mobil Kijang menepiskan tangan. Menolak uluran ember kecil yang disorongkannya. (nto)

Komentar»

No comments yet — be the first.