Gempa Lagi… Gempa Lagi Juli 29, 2008
Posted by orangmiskin in berita.Tags: BMG, Gempa dan Tsunami ancam Sumbar, Gempa di Sumbar
trackback

Ket : Gempa yang dirilis http://bmg.go.id Jumat (8/8/08)
Lama absen, kemarin gempa kembali menggoyang negeri ini. Tidak ada korban jiwa ataupun kerusakan bangunan, tapi cukup membuat panik. Gempa berkekuatan 5,6 SR itu membuat orang-orang berteriak dan menangis. Gempa lagi.. gempa lagi.
Saat gempa terjadi, saya sedang makan siang di warung nasi samping masjid depan rumah. Saya malahan tidak sadar kalau bumi sedang bergetar. Karena begitu pelan. Awalnya saya berfikir, ada kucing nakal yang menggoyang tempat duduk. Santai, saya terus saja makan.
Berbeda dengan yang sudah-sudah, getaran gempa kali ini tidak langsung menghentak, tapi mengayun dengan pelan. Makin lama makin kencang, lalu braaak.. terjadi kejutan. Tiang listrik bergoyang. Orang-orang pun keluar rumah, takut tertimpa bangunan. Saya ikut lari, tinggalkan nasi, tidak sempat cuci tangan.
Selalu ada jenaka dalam kepanikan. Seorang bapak, berkain sarung lari dari lantai dua rumahnya. Saya tidak tahu apakah dia habis mandi siang atau sedang beraktifitas siang. Seorang anak menangis, bukan karena gempa tapi ditinggal ibunya yang berlari. Seorang ibu berhanduk dengan kepala penuh busa sabun, tampak diantara orang-orang.
Dulu saat musim gempa besar melanda negeri ini, semua tidak bisa tidur. Sedikit sedikit gempa. Lalu berlarian. Tenang beberapa menit, lalu gempa lagi dan kembali lari keluar rumah. Makanya, banyak warga memilih membuat tenda di depan rumah. Tidur beratapkan langit, mudah-mudahan bisa lihat bintang.
Saat 2005 lalu, saya masih kuliah dan tinggal di Pasar Baru, 5 Km dari Kampus Unand Limau Manis. Kampus kami yang berada di puncak bukit menjadi lokasi pengungsian warga. Disuatu waktu, Mei 2005 saya dibangunkan tetangga sebelah kamar pukul 3.00 WIB dini hari. Katanya Tsunami dan air laut sudah sampai di Bypass. Antara percaya dan tidak, saya melongok keluar rumah.
Untuk pertama kalinya, saya meyaksikan ketakutan yang teramat sangat. Orang-orang berlarian di jalan menyelamatkan hidup. Keadaan saat itu kacau balau. Sepanjang jalan Pasar Baru sampai ke arah Bandar Buat, macet total. Pejalan kaki bercampur baur dengan kendaraan, sepeda motor, truk dan becak.
Rentetan klakson saling bersahutan. Semua ingin saling mendahului. Anak-anak menangis digendongan ibunya. Seorang bapak berlari tanpa alas kaki. Tangan kanannya membimbing istri dan anak, sedang tangan kiranya menjinjing sebuah buntalan berisi pakaian.
Saya saksi mata bagaimana sebuah isu hampir menimbulkan chaos. Kenapa isu? karena saat itu tidak ada gempa, lalu kok bisa timbul Tsunami. Aneh kan. Tapi disaat logika tidak berfungsi baik, isu bisa menjadi kebenaran.
Terbukti kemudian informasi Tsunami itu sengaja dihembuskan orang-orang tertentu. Entah dengan motif dan untuk apa. Esok paginya koran-koran lokal mewartakan puluhan rumah di Air Tawar Kota Padang dimasuki maling. TV, Kulkas dan peralatan berharga digondol maling. Kepanikan membuat warga lalai. Mereka lupa mengunci pintu. Buntutnya ada yang menangguk untung dari kekeruhan tersebut.
Itulah barisan panjang pengungsian pertama warga kota. Sesudahnya, semua orang tahu, daerah ketinggian di Kota Padang segera menjadi barak dan dipenuhi tenda warga begitu gempa besar mengguncang. Sumbar etalase bencana, itu kata Presiden RI SBY saat berkunjung ke Sumbar pasca gempa besar 12 dan 13 September 2007.
Alam menempa mental kita. Mereka semakin awas dan waspada. Saat ini begitu gempa menggoyang. Tanpa dikomando warga segera berlari keluar rumah. Meninggalkan apa saja, termasuk makanan dan tidak sempat cuci tangan seperti saya, Senin (21/7) lalu, saat gempa 5,6 SR itu terjadi. (nto)






Komentar»
No comments yet — be the first.