Hidup adalah Sebuah Halte* Juli 22, 2008
Posted by orangmiskin in filsafat.Tags: Ia ahli menyembunyikan diri, Jika Tuhan memang ada, Maya : Misteri Dunia dan Cinta, ostein Gaarder, sebuah halte, tidak hanya Ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari seg
trackback
Jika Tuhan memang ada, tidak hanya Ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari segalanya, Ia ahli menyembunyikan diri **
Hidup adalah sebuah halte. Kita bergerak dari satu pemberhentian ke pemberhentian lain. Kita bertemu, bertatap muka, bertegur sapa dan meninggalkan kartu nama. Lalu pergi lagi mengarungi perjalanan panjang selanjutnya.
Ajaib. Tempat pemberhentian satu ini adalah gambaran perjalanan manusia. Jika hidup petualangan, maka saat ini kita sama-sama beristirahat di halte yang sama. Tidak peduli dari mobil mana kita turun, tidak penting dari arah mana kita datang.
Siapa menduga, saya akan bertemu dengan orang-orang yang hari ini saya kenal. Pun demikian tidak ada yang bisa persis menebak sepanjang apa pertemuan itu, selamanyakah atau sekejap saja.
Suatu saat, masing-masing kita akan berangkat, karena kereta atau mungkin biskota nasib datang. Membawa kita kepengembaraan lainnya. Jangan bersedih karena seperti perjalanan, mungkin kita bisa ketemu lagi dalam halte yang sama di waktu yang berbeda.
Waktu tidak membunuh apapun, tapi waktu akan menggerus semuanya. Sepuluh tahun lalu, tangan itu mungkin masih kencang dengan otot-otot yang bertonjolan. Sekarang, sedikit kerutan mulai menghiasi wajah dan rambut putih keperakan mulai tampak satu-satu. Tapi itu proses. Semuanya yang bermula, pasti memiliki akhir.
Halte itu tempat kita berhenti. Saat awal pertemuan ini, di antara kita tidak pernah saling kenal, lalu bertegur sapa, bertatap muka dan meninggalkan kartu nama. Kita sama-sama meninggalkan jejak dan ingatan dalam kepala masing-masing.
Hari itu, karena kepentingan kita ada di halte yang sama. Kita terjebak dalam relasi yang unik, pada jejaring yang rumit yang disebut nasib atua mungkin takdir Nya. Awalnya sekedar berteduh dari hujan, menepi dari teriknya matahari, lalu saling kenal dan bahkan cinta.
Saat perjalanan dilanjutkan, ada yang masih pergi sendirian, tapi tidak sedikit yang membawa serta orang lain, seorang teman seperjalanan.
Apa yang menyebabkan perjalanan ini indah, kalau bukan kejutan yang ada dibaliknya. Kita tidak tahu siapa yang akan kita temui dipemberhentian selanjutnya. Bisa orang yang sama, bisa juga tidak. Hidup dengan kejutan itu ternyata mengairahkan. Begitu lembut seperti lembutnya rambut kekasih saat dia usai mandi tengah hari.
Hidup itu sebuah perjalanan dan di tiap kelokannya ada halte tempat kita bertemu dengan orang yang berbeda. Itulah keajaiban. Itulah takdir Tuhan. Itulah misteri. (nto)
*Sebuah renungan
**(Jostein Gaarder dalam Maya : Misteri Dunia dan Cinta)






Terimakasih Informasinya. Blog/Web ini memang Luarbiasa. Semoga Menjadi yang terbaik.
Salam kenal dari:Ruby Afsa