Sepi Makin Kronis Juli 11, 2008
Posted by orangmiskin in hidup.Tags: empat kali pergi, Kesepian ditinggalkan
trackback
Sudah agak lama juga tidak ngisi blog ini. Dua postingan terakhir hanya sekedar “palapeh tanyo” saja. Ide sebenarnya banyak, tapi saya tidak tahu kenapa jadi malas menulis. Waktu tersita dengan rutinitas. Kebiasan membaca menjelang tidur sudah beberapa hari ini tertinggalkan.
Pernahkah anda merasakan kesepian yang teramat sangat. Itulah yang saya alami beberapa bulan ini. Cilotehan salah satu teman blogger, Anto kok tidak bernyayi lagi apa orangmiskin sudah benar-benar jatuh miskin, sudah beberapa kali saya dengar. Saya hanya ketawa di hati.
Saya merasa de javu (apa kata ini tepat ya). Saya pernah mengalami hal rasa ini tiga tahun lalu. Rasa yang kronis, bahkan sangat kronis. Saat itu satu mingguan lebih bawaannya tidur dan melamun. Semuanya serba malas, malas makan, malas baca buku, malas kuliah dan malas mandi. Pokonya serba malas. Tapi saat itu ada alasannya. Organisasi mahasiswa yang kami bangun bersama-sama, rontok akibat konflik internal. Semuanya putus asa, waktu empat tahun hilang sia-sia.
Nah.. kalau sekarang apa?? Ini yang bikin saya bingung. Saya tidak merasa punya masalah. Semuanya lancar-lancar saja. Rencana dan target yang dibuat sebagian tercapai. Walau masih ada impian yang belum terwujud.
Mencoba mencari penyebab adalah petualangan menggairahkan. Kalau dianalisa lebih dalam sepertinya saya mengalami sindrom ditinggalkan. Pernahkah anda berkali-kali ditinggalkan. Saya sedang mengalaminya. Dan sepertinya itu yang bikin saya kumat lagi.
Kalau dihitung-hitung, dalam dua tahun terakhir empat kali teman dekat pergi. Keempatnya adalah orang-orang istimewa, karena kami sudah saling kenal sejak awal-awal kuliah. Pertama, tetangga sebelah kamar. Dia mendapatkan pekerjaan layak yang mengharuskan dia pidah rumah. Empat bulan kemudian, menyusul teman lainnya yang berangkat ke Medan. Lalu teman sekamar selama 2 tahun terakhir, harus balik lagi ke Jakarta. Dan Agustus mendatang, juga teman satu kosan berangkat ke Jepang melanjutkan studi. Celakanya sang Butterfly, dalam waktu lama tidak akan ada di kota ini. Kita hanya ketemu di dunia maya.
Selama dua tahun terakhir saya harus tersiksa menyaksikan teman-teman itu menjinjing tas, mempacking barang dan melangkah pergi dari pintu kosan sederhana kami di kawasan Jati Kota Padang. Ada rasa kehilangan, ada rasa sesak. Tapi saya meyakini setiap orang memiliki takdir masing-masing. Dia berhak memilih takdirnya itu.
Saya merasakan betul bagaimana sesaknya ditinggalkan. Coba bayangkan, orang-orang dekat kita mengangkat koper, melewati wajah kita dan mengucapkan “saya pamit”. Ucapan, “Sukses dan hati-hati aja”, mengandung kegetiran yang sangat dalam.
Kalau boleh memilih, saya akan mengambil meninggalkan dari pada ditinggalkan. Mungkin rasanya akan berbeda, dan penyakit sepi yang pernah kronis itu, tidak datang lagi. (catt : HeheĀ agak cengeng ya). (nto)






Kesepian dalam keramaian?
Aku rasa semua orang pasti merasakan hal yang sama….Dia, aku, dan semua…
Ya…Kok sama ya sindromnya…Lebih baik meninggalkan dari pada ditinggalkan…Soalnya persiapan mental lebih sempurna yang meninggalkan…Entah egoisnya pihak mana…
Tapi yang pasti, jangan males Mandi ya pak…
Ntar bauun, di rapat paginya…..
Nyantai aja to, yang paling penting jangan sampe masuk daftar “DITINGGAL SAMA ISTRI” sendiri….ha..ha.. kalo ditinggal istri orang lain gpp.
Apa sekarang masih merasakan kesepian kronis lagi?
Itulah hidup, patah tumbuh hilang berganti.
Ada yang pergi meninggalkan hidup kita dan pasti bakal ada lagi penggantinya yang datang ke dalam hidup kita. Jadi nikmati aja proses ini.
Oke bang!
Cheers…
Smile to World… =)