jump to navigation

Kala Pak Wali Sholat Diimami Ketua Ahmadiyah Juni 14, 2008

Posted by orangmiskin in berita.
Tags: , ,
trackback

Wako jumatan di amadiyah sawahan (70)

Entah untuk melihat prosesi Sholat Jumat atau apa, walikota Padang Drs Fauzi Bahar memutuskan Sholat Jumat berjamaah di Masjid Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kota Padang, Mesjid Mubarak di Jalan Agus Salim Padang. Sholat Jumat yang diimami Ketua JAI Padang, H Syaiful Anwar ini juga diikuti ketua MUI, Kakandepag dan Kepala Kesbangpol Padang.

“Saya akan sholat Jumat di Ahmadiyah,” kata Fauzi Bahar kepada wartawan disela-sela rapat tertutup walikota dengan pengurus Ahmadiyah di kediamannya, Jumat (13/6).

Saat itu baru pukul 12.25 Wib. Sesaat lagi Sholat Jumat. Walikota Padang, Drs Fauzi Bahar, Ketua MUI Padang Syamsul Bahri Khatib, dan Kakandepag Padang Samsul Bahri duduk di shaft pertama di Masjid Mubarak. Disampingnya beberapa Jemaat Ahmadiyah lainnya. Termasuk juga Mubaliq Ahmadiyah Sumbar-Kerinci Mudatsir Ahmad Surbakti. Sedang kepala Kesbangpol Surya Budi, duduk di shaft keempat.

Beberapa kali Fauzi Bahar terlihat berbisik dengan Mudatsir Ahmad, entah membicarakan apa. Pukul 12.30 Wib, H Syaiful Anwar berdiri dan mengucapkan salam. Dia bertindak sebagai Khatib. Dan azan Jumat pun berkumandang dari pengeras suara di masjid berlantai II ini.

H Syaiful memulai khutbahnya dengan bacaan ibu Alquran, Surat Alfatiha. Dia membaca beberapa ayat pendek, sebagai inti khutbah. Pria tua ini bersemangat. Beberapa potongan khutbahnya tidak tertangkap terlalu jelas. Namun dikatakannya, kaum Ahmadiyah adalah bagian dari umat Islam. Ahmadiyah berdakwah ke seluruh dunia.

Masjid Mubarak terisi delapan shaft. Di shaft belakang, beberapa anak-anak terlihat. Dan beberapa kaum perempuan duduk bertelekung di belakang. Mereka dibatasi hijab yang terbuat dari kain putih dari jemaah laki-laki.

Dalam khutbahnya H Syaiful mengatakan, sesuai hadist Nabi Muhammad SAW, umat Islam diakhir zaman akan terbagi atas 73 golongan. Dan hanya satu golongan yang benar. Dia tidak menyebut golongan mana.

Diakhir khutbah, suaranya melemah. Terdengar beberapa kali sesengukan. Dia meneteskan air mata. Sekitar pukul 13.14 Wib, sholat pun dimulai. H Syaiful Anwar pun menjadi imam. Di belakangnya berdiri Jamaah Ahmadiyah, Fauzi Bahar dan yang lainnya. Semuanya tampak khusuk.

Usai Sholat, beberapa jamaah langsung berdiri dan sholat sunat dua rakaat. Berbeda dengan yang lainnya, Ketua MUI Kota Padang tampak sholat empat rakaat, seusai sholat Jumat itu.

“Saya datang kesini untuk menyaksikan dari dekat Ahmadiyah Sholat. Semuanya warga saya, siapapun dia. Saya akan selalu ada ditengah-tengah warga saya. Apapun yang terjadi,” kata Fauzi Bahar. Dia mengenang, saat gempa besar melanda Kota Padang beberapa waktu lalu, dia juga ada ditengah-tengah warganya.

Saat itu Fauzi Bahar menghimbau warga Ahmadiyah untuk untuk bisa menahan diri. Perbedaan katanya, adalah pertanda kekayaan umat. Dengan saling menghormati, semuanya akan aman dan damai. “Ekonomi tidak akan bisa dibangun kalau kita hidup dalam kecemasan,” ungkapnya.

Agaknya demi menjaga kedamaian itulah, semua anggota Jemaat Ahamdiyah sepakat untuk mencopot plang nama mereka. Fauzi Bahar sendiri yang membuka satu demi satu baut yang melekat di plang nama yang terbuat dari logam itu. (nto)

Komentar»

1. vinnamelwanti - Juni 18, 2008

Ini kontroversi..Selalu membuat sensasi…

ntar lagi juga mo pilkada.. ehhm ada ngak ya hubungannya..

2. Wempi - Juni 19, 2008

sip… postingan wempi soal ahmadiyah sebelum pemko sholat jum’at disini, kalo pas kan bisa juga pinjem gambarnya. hahaha, tapi kenapa ahmadiyah gak mau kalo khatib dari pemko padang.
kalo hubungan dengan pilkada mungkin tidak ada, kalo tidak salah wali kota sekarang sudah 2 kali periode menjabat sebagai walikota dan harus istirahat dulu *kalo tidak salah*.
wempi rasa ini murni jalan dakwah mengajak kembali kaum ahmadiyah ke islam yang sebenarnya.

3. simon - September 26, 2008

wali nagari menyesatkan umat islam sholat jum’at nya tak syah . nabi tak pernah sholat di masjid dhiror pimpinan abdullah bin ubay bin salul tokoh munafik saat itu