jump to navigation

Ada Aroma Kekerasan Dalam Agama? Juni 4, 2008

Posted by orangmiskin in opini.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Aksi kekerasan yang dibungkus agama kembali terjadi. Pada 1 Juni 2008 di Silang Monas masa Front Pembela Islam (FPI) menyerang kelompok masa yang menamakan diri Aliansi Kebebasan Beragama dan berkeyakinan (AKK-BB). Puluhan orang terluka, dan puluhan lainnya menderita gangguan psikis.

Bukankah dua kelompok ini berasal dari agama yang sama. FPI (mungkin ini bisa mewakili link) saya kira adalah pembela Islam yang paling gigih. Dan AKK-BB, saya yakin mayoritas anggotanya adalah Islam juga. Lalu kenapa bisa timbul aksi kekerasan? Bukan kah Islam itu bersaudara?

Saya tidak punya kapasitas akademis menjawabnya. Namun pasca aksi penyerangan itu, banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala saya. Bukankah semua orang di dunia ini memiliki Tuhan yang sama. Karena jika ada yang mengaku berbeda Tuhan, artinya diktum Tuhan itu Esa gugur dengan sendirinya.

Fakta bahwa AKK-BB adalah organisasi pendukukng Ahmadiyah, mungkin benar adanya. Simak artikel yang dimuat di blog Ornop ini (klik), hampir semuanya berisi Ahmadiyah. Bahkan pada saat Ultah ke-65 Gusdur (klik), AKKBB turut memproklamirkan petisi Warga Negara Indonesia.

Petisi yang dikeluarkan 4 Agustus 2005 itu, dalam salah satu butinya jelas-jelas meminta perlindungan negara terhadap 200 ribu Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Lalu pertanyaanya, apakah karena kelompok ini pendukung Ahmadiyah, legal bagi pihak lain untuk melakukan kekerasan?

Kekerasan atas nama agama bukan kali ini saja terjadi. Dalam lanskap sejarah dunia, hampir disetiap zaman kekerasan atas nama tuhan terjadi. Bukan saja di agama-agama samawi, tapi juga agama-agama bumi.

Pertentangan bukan saja dalam lintas agama, namun tidak jarang satu agama. Dalam sejarah Islam klasik, pembunuhan cucu nabi Muhammad, Imam Husain as di Padang Karbala, 10 Muharram tahun 61 Hijriah, mungkin bisa menjadi contoh. Dalam sejarah kristen, pembantian pengikut protestan oleh Katolik tidak ada yang bisa melupakanya. Sebabnya adalah fanatisme dan fundamnetalisme.

Kedua paham diatas ini, bisa terjadi pada siapa saja. Tidak ada yang bisa melupkan serangan gas syaraf maut di stasiun kereta api bawah tanah di Kasumigaseki, Jepang, 13 tahun lalu. Pelakunya Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto, pimpinan sekte pemuja hari kiamat, Aum. Dalam serangan pada 1995 itu, sedikitnya 12 orang tewas dan 5.000 lainnya terluka.

Di India, lebih 100 juta orang Islam, Sikh, Kristen dan Kashmir ditindas mayoritas Hindu. Masjid dibongkar karena dikira tempat lahirnya dewa Rama, kemudian didirikan pura diatasnya. Belum lagi di Palestina dan Israel, konflik Syiah-Sunni di Irak, konflik Inggris-Irlandia. Itu hanya contoh bagaimana kekerasan atas nama agama bisa terjadi di agama apa saja.

Makanya, pernyataan sepihak yang menyatakan Islam agama teroris yang memegang Alquran di tangan kanan dan pedang di tangan kiri, salah besar. Namun anggapan itu akan langgeng dalam ingatan orang lain (terutama non muslim), kalau saja organisasi-organisasi Islam tetap melakukan tindak kekerasan.

Pertanyaan saya, benarkah agama membawa bias kekerasan dalam dirinya? apakah kekerasan atas nama agama terjadi karena ajarannya, atau fanatisme pemeluknya? Sayangnya, saya tidak punya kapasitas akademis menjawabnya…(nto)

Komentar»

1. padhepokananime - Juni 5, 2008

FPI menurut watashiwa menjadi kambing hitam oleh pemerintah dalam mengalihkan masalah yang lebih besar yang dihadapi rakyat Indonesia yaitu kenaikan BBM.
Dalam hal ini media massa memang menjadi aktor utama dalam hal ini. Betapa tidak berita tentang FPI selalu dikaitkan dengan kekerasan padahal ketika melakukan aksinya FPI selalu mengikuti prosedur polisi.
Terus kenapa polisi dalam hal ini membiarkan 2 kelompok yang berbeda pemikiran dan prinsip bisa bertemu di dalam tempat yang menjadi simbol negara yaitu di Monas.
Padahal sebelum aksinya FPI sudah meminta izin ke polisi, aneh?
http://agama.infogue.com/ada_aroma_kekerasan_dalam_agama_

2. aram - Juni 5, 2008

tutup mulut ah,,
ntar diserang FPI

3. gemes - Juni 5, 2008

Apakah ketika pfi melakukan aksi kekerasan merupakan bagian dari prosedur yang diijinkan oleh polisi juga? Kalau menurut watashiwa pfi menjadi kambing hitam pemerintah dalam mengalihkan masalah bbm, sebaliknya ahmadiyah juga dijadikan kambing hitam fpi untuk menyalurkan nafsu arogansinya karena merasa sudah sangat islami banget2an dari islam2 lainnya. Padahal tindakannya sangat tidak islami. Dan nyata2nya lagi komandan kerusuhannya ngabur meninggalkan anak buahnya. Harusnya jika berani berbuat harus berani juga bertanggung jawab. Ucapan dan tindakan harus singkron. Itu baru disebut Pemimpin, terlepas dari benar atau tidak tindakannya.

4. Nurhadi - Juni 5, 2008

Menurut saya FPI , dan teman teman nya sudah benar dalam melakukan kegiatan demi tegaknya Islam, dan dalam mempertahankan aqidah Islam. Yang salah dalam hal ini adalah kepolisian, yang sengaja memberikan izin kepada kedua pihak yang berseberangan bertemu dalam satu tempat dan waktu.
kesalahan kedua Pemerintah sebagai umaroh, belum secara penuh memahami Islam, dan teror teror yang mengancamnya. jelas jelas ahmadiah itu telah mengganti aqidah dan pedoman Islam, dan mengikrarkan orang lain sebagai nabi pengganti Muhammad, tapi masih pakai simboh Islam. Dimana letak Islam pemimpin negara kita. Sebagai Ulama, Habieb Rizieq Shihab sudah memperjuangkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya . tapi mengapa masih dipersalahkan? Apakah ini tanda tanda kehancuran dunia? Semoga Allah segera membela dan melindungi umatnya dari kehancuran.
Terimakasih FPI…
Perjuangan mu tidak sia sia

5. Dadang Yusuf - Juni 6, 2008

Selemah-lemahnya iman adalah berjihad dengan hati apabila melihat, mendengar dan menyaksikan penyimpangan aqidah. Kita disini harus bijak menilai dan jangan terbawa emosi. Pada zaman khalifah Abu Bakar Siddiq ada orang yang mengaku Nabi terakhir yaitu Musailamah, oleh Khalifah Abu Bakar diperingatkan bahwa Nabi terakhir sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an adalah MUHAMMAD SAW, tetapi Musailamah berkeras hati tidak mengindahkan peringatan Khalifah Abuk Bakar yang akhirnya diperangi. Untuk itu mari kita perhatikan benang merah yang menjadi penyebabnya.

6. kuli - Desember 4, 2008

wahai umat islam bersatulah