jump to navigation

Gizi Buruk di Etalase Sumbar Maret 5, 2008

Posted by orangmiskin in berita, sosial.
Tags: , , , ,
trackback

Gizi buruk di m jamil

Gemerlapnya Kota Padang ternyata bertolak belakang dengan kondisi penduduknya. Di kota yang menjadi etalase Sumbar ini, kasus gizi buruk masih ditemukan.

Adalah Firdaus Saputra (13) warga Jalan Teratai Rt II/IV Kelurahan Padang Sarai Kecamatan Koto Tangah dan Halimah Tusadyah (5) yang menjadi penderita gizi buruk. Keduanya terbaring lemah di dua rumah sakit di Padang.

Firdaus Saputra (13) terbaring lemah di salah satu ruangan Bangsal Anak RS M Jamil Padang. Dia adalah penderita gizi buruk di Kota Padang.

“Kalau sehat ipir mau sekolah lagi,”. Itulah yang diucapkannya saat saya menanyakan keinginannya setelah sembuh.

Kondisi bocah 13 tahun ini sangat memprihatinkan, kalau tidak bisa disebut menggenaskan. Kedua tungkai dan tanganya kurus. Jarinya-jarinya hampir sama. Perutnya membesar dan keras. Tulang-tulang iga dan dadanya terlihat jelas setiap kali dia bernapas. Kondisinya terus memburuk sejak 2 tahun silam.

Firdaus adalah penderita gizi buruk di Kota Padang. Anak ketiga dari lima bersaudara ini telah dirawat di RS M Jamil sejak 12 hari silam. Pertama kali masuk M Jamil, Firdaus ditempatkan di UGD M Jamil dan baru dipindahkan satu hari kemudian. Diceritakan Ipir–begitu dia memanggil dirinya–saat masuk rumah sakit dia merasa sangat lemah. Tidak ada daya.

“Sekarang sudah agak kuat. Makan sudah banyak,” katanya sambil meminta Hayatuddin, sang bapak untuk mendudukannya. “Ipir mau duduk,” katanya Dengan alasan kesehatan anak pasangan Hayatuddin (50) dan Mawarni (45) ini terpaksa harus berhenti sekolah dikelas lima SD, dua tahun lalu. Padahal di kelas, Firdaus bukan lah siswa kebanyakan. Dengan terbata, Firdaus mengatakan saat terakhir kali berhenti sekolah dia peringkat ke 8 di kelasnya. Siswa yang bersekolah di SDN 05 Kandang Asam Padang Sarai Kecamatan Koto Tangah ini sangat menyukai pelajaran IPA dan Metematika.

“Pelajaran yang paling suka adalah matematika dan IPA. Waktu di kelas V dulu, nilai Matematikannya 7 dan IPA 8. Ipir ingin sekolah lagi,” kata Firdaus.

Hayatuddin (50) mengatakan Firdaus masuk ke M Jamil Padang pada 15 Februari lalu. Saat pertama kali masuk, anak ketiga Hayatuddin ini dalam kondisi memprihatinkan. Dia pucat dan susah bergerak. HB nya hanya 1. Alhasil pertama kali sampai di M Jamil, Firdaus langsung dirawat di UGD. Dan baru satu hari kemudian di pindahkan ke ruang rawat anak-anak.

“Dia masuk M Jamil 15 Februari malam. Kepada saya dia minta untuk dirawat di rumah sakit. Firdaus bilang dia sangat lemah sekali. Saat pertama masuk Rumah Sakit HB nya hanya 1, sekarang sudah 12,9. Sudah habis 12 kantong darah untuk tranfusi,” kata Hayatuddin.

Faktor ekonomi yang membuat kondisi Firdaus seperti itu. Susahnya lapangan pekerjaan, Hayatuddin memutuskan merantau ke Aceh sebelum Tsunami terjadi. Namun Aceh bergolak, pria yang bekerja serabutan sebagai buruh ini, tahun 2001 merantau ke Dumai dan meninggalkan anak-anaknya bersama Mawarni, istrinya di Padang.

Kondisi Firdaus mulai memburuk sejak saat itu. Meski hanya beberapa bulan, sejak ditinggalkan nyaris anak dan itrinya hanya bisa makan satu kali sehari. Itupun sering terlambat.

“Pas waktu saya pulang, anak tetua bilang seperti ini, “sejak ayah pergi ke Dumai, kami hanya makan satu kali sehari saja. Itu juga terlambat”. Sedih saya mendengarkannya,” Hayatuddin terbata menjelaskannya. Matanya mulai memerah dan setetes air mata tampak menggantung di ujung bulu matanya.

Sejak dua tahun silam kondisi Firdaus terus memburuk. Tubuhnya mulai lemah, dan sedikit demi sedikit otot-otonya menghilang. Bocah 13 tahun ini hanya tinggal kulit pembalut tulang. Kondisi ini juga yang memaksa Firdaus berhenti menggapai cita-citanya. Di kelas V SD, dengan pahit dia berhenti dari sekolah.

“Sampai saat ini sudah dua kali dia masuk rumah sakit. pertama pada Juli 2007 dan sekarang. Saat yang pertama (masuk rumah sakit-red), dia menghabiskan 9 kantong darah. Sekarang sudah 12 kantong. Alhamdullilah kondisinya mulai membaik,” ucap Hayatuddin.

Selama Firdaus dirawat hanya Hayatuddin yang menunggui. Sebelumnya pada lima hari pertama Firdaus ditemani ibunya Mawarni. Namun berhubung anak bungsu pasangan ini menderita diare, Mawarni harus pulang.

“Selama ini ibunya ikut bantu-bantu ekonomi keluarga dengan jualan ikan pakai baskom. Tetapi sekarang karena yang bungsu juga sakit, tentu tidak jualan lagi. Dan saya pun disini. Entah gimana makan anak-anak, untuk biaya di rumah sakit untung ada teman-teman yang membantu,” imbuhnya.

Firdaus merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan ini. Dua kakaknya, Devi (17) dan Parliana (16) sudah duduk di Sekolah Menengah Atas. Sedang dua adiknya Fazilah (8) dan Yulia masih balita. Dari lima anak pasangan ini, hanya Firdaus yang menderita gizi buruk. Penyebabnya kata Hayatuddin saat Firdaus dalam pertumbuhan, kondisi ekonomi keluarganya sangat susah.

Penderita gizi buruk Halimahtusyadiah

Setali tiga uang. Kemiskinan dan tingkat pendidikan juga penyebab Halimah Tusadyah menderita gizi buruk. Karena tidak tahu dengan penyakit anaknya, sang ibu hanya membawa ke dukun kampung.

“Awalnya kami tidak tahu kalu ini penyakit gizi buruk. Setiap demam Halimah selalu dibawa ke dukun kampung. Kata dukun penyakitnya panas deman. Tak tahunya ini gizi buruk,”. Demikian dikatakan Marlis (59), nenek Halimah Tusadyah di RS Daerah Sungai Sapieh Padang.

Hari itu Kamis (28/2) pukul 13.30 wib, saat saya menyambanginya di ruang rawat RSUD Sungai Sapiah. Empat hari sudah Halimah dirawat intensif di rumah sakit daerah milik Pemko Padang ini. Diusia yang ke 5 tahun, Halimah harus terbaring tanpa daya di rumah sakit. Masa depannya terenggut, disaat keriangan masa kanak-kanak menjelang.

Siapapun yang melihat kondisinya bisa dipastikan memendam kesedihan. Badannya kurus, kepala membesar, kedua tungkai dan tanganya kurus kering. Hanya tinggal kulit pembalut tulang. Tulang-tulang dada dan iganya bertonjolan. Ada bunyi sesak setiap dia menghirup napas. Jangankan berlari bersama teman-temannya, berdiri saja dia sudah tidak sanggup. Bahkan untuk duduk sekalipun, bocah mungil ini harus dibantu sesorang.

Mestinya anak kedua pasangan Endrizal (36) dan Arlinda (30) kita temukan bukan dikakunya bangsal RS, tetapi bermain ayunan bersama teman-teman sebayanya. Nasi telah menjadi bubur, ketidaktahuan orang tua dan miskinnya ekonomi keluarga membuat Halimah Tusadyah seperti itu.

Diceritakan Marlis, kondisi Halimah memburuk sejak beberapa bulan terakhir. Dia sering sakit-sakitan dan susah makan. “Lah banyak tamu nan datang, baganti-gantian se. Pak wali jo ibuknyo lah tibo pulo. Galak ciek Halaimah,” kata salah seorang kerabatnya, mencoba mengajak si bocah malang ini ketawa. Tapi dia tetap diam, padangannya balita yang mengambil nama ibu susu Nabi Muhammad SAW ini, tanpa rona.

Tidakpaham dengan penyakit yang diderita anaknya, keluarga membawa Halimah ke dukun-dukun kampung.”Sudah banyak dukun didatangi. Mereka bilang Halimah hanya deman. Semua obat sudah kami carikan, mulai dedaunan, bunga-bungaan, limau sampai potong ayam segala dilakukan. Tapi tetap juga tidak ada perubahan,” jelas Marlis.

Selain di bawa ke dukun-dukun kampung, Halimah sebenarnya juga telah dibawa ke Puskesmas terdekat. Dari puskesmalah diketahui, kalau kakak Riki (8) dan adik Deno (10) ini menderita gizi buruk. Pastinya, kata Marlis, keluarga baru mengetahui penyakit Halimah sehabis lebaran idul fitri 1428 H yang lalu.

Korban gizi buruk memang identik dengan keluarga miskin. Demikian halnya dengan orang tua Halimah yang tinggal di Kelurahan Pasie Sabalah Rt 03/03 No 4 Kecamatan Koto Tangah Padang ini. Marlis agak malu-malu menjelaskan Endrizal hanya seoarang nelayan. Sementara istrinya—anak ke empat Marlis—ibu rumah tangga biasa.

“Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan nelayan. Ekonomi keluarga tergantung pada kebaikan laut. Jika hari tarang ikan tidak dapat,” kata Marlis. Halimah dalam dekapannya waktu itu.

Ipir dan Halimah bukan satu-satunya penderita gizi buruk di kota ini. Banyak korban lainnya yang mungkin belum terekspos ke permukaan. Perhatian dan kepedulian pemerintah mutlak diperlukan. Jika tidak ranah minang yang selama ini dikenal sebagai industri otak hanya tinggal cerita lama. (nto)

Komentar»

1. Stevanus - Maret 16, 2008

Maju terus untuk memajukan jurnalistik di sumbar. salam kenal dari saya

2. orangmiskin - Maret 16, 2008

salam kenal juga. mari sama-sama berjuang di ujung pena..hehe

3. evi - Desember 2, 2008

SEMANGAT

4. minggu - Maret 31, 2009

how to solve that problem