Tertipu Isu Aksi Demo Anak Sekolahan Januari 17, 2008
Posted by orangmiskin in pendidikan, politik, sosial.Tags: demo, Elshinta, Ketipu demo, Masjid Raya Sumbar, SPMA, Sumbar, Unjuk Rasa
trackback
Ibarat gula dan semut. Dimana ada aksi demo, disitu pasti ada wartawan. Saling ketergantungan ini sudah terjalin sejak lama. Pendemo butuh pressure (tekanan) oleh media, media butuh beritanya.
Namun apa jadinya jika wartawan ketipu dengan isu adanya demo. Yang terjadi kecewa dan sengrungut. Itulah yang dialami belasan wartawan cetak dan elektronik saat ada isu demo yang akan dilakukan siswa Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Jalan Khatib Sulaiman.
Hari itu, Kamis (17/1). Kota Padang sedang panas-panasnya. Informasi bakal adanya aksi demonstrasi siswa SPMA ini sudah santer terdengar sejak pagi hari. Saya sendiri mendapatkan kabar itu pukul 8.00 wib, setelah di-SMS kordinator liputan Posmetro Padang, Maryulis Max. “Ada demo siswa SPMA di kantor gubernur jam 9.00 ini. Buat liputan mendalam. Berita, feuture dan minta tanggapan pihak-pihak terkait,” kalimat itu tertulis di layar HP saya.
“Bukan SPMA tapi anak SMA. Saya dapat SMS-nya dari salah seorang siswa. Tapi ngak tau juga ya,” kata Deffi wartawan FaTV, sebuah lokal di Padang. Saat itu kami sama-sama di kantor Gubernur Sumbar. Disela kesimpangsiuran informasi itu, beberapa wartawan cetak dan elektronik tetap standby di halaman kantor gubernur. Mereka setia menunggu, kalau-kalau siswa SPMA (atau SMA) itu datangi rumah bagonjong dan mereka tidak ada ditempat, yang terjadi adalah kecolongan berita. Bisa-bisa dapat Surat Peringatan.
Kabar tentang akan adanya aksi demo siswa sekolah pertanian ini, menyebar dengan cepat lewat layanan SMS. Bukan saja di kantor gubernur, di gedung DPRD Sumbar pun beberapa wartawan juga tampak menunggu sembari bercanda sersama mereka. Dan tentu saja yang paling ramai adalah di komplek SPMA sendiri, tempat aksi ini akan dimulai.
Jam terus bergerak dan bumi berputar. Kabar akan adanya aksi demo pukul 9.00 wib di kantor Gubernur Sumbar tidak terbukti. Lelah menunggu, wartawan di kantor gubernur seperti Mustafa dari Radio Elsintha dan saya sendiri, mengambil inisiatif mendatangi gedung SPMA di Jalan Khatib Sulaiman Padang. Setali tiga uang, di gedung yang bakal diubah menjadi Masjid Raya Sumbar ini belasan wartawan media cetak dan elektronik sudah menunggu. Bukan saja wartawan, satu unit mobil patroli Poltabes Padang terparkir dipingir jalan depan SPMA, dan beberapa aparat kepolisian juga tampak disana.
“Aksi Kumpul” wartawan di komplek SPMA itu langsung bubar, begitu salah seorang aparat Poltabes Padang mengabarkan tidak ada aksi demo siswa SPMA. Namun beberapa siswa SPMA yang diwawancarai mengatakan, pada awalnya mereka memang berencana menggelar aksi demo. “Sebenarnya kami memang sudah berniat mau demo hari ini, namun entah kenapa tidak jadi,” kata Anton siswa kelas II SPMA kepada saya.
Disebutkan Anton, sampai saat ini siswa masih menolak pemindahan sekolah mereka ke Lubuk Minturun Padang. Pasalnya, bangunan SPMA di Lubuk Minturun belum rampung. “Ada juga rencana kami mau dipindahin ke Yayasan Bunda, tapi itu kan menumpang. Lebih baik kami disini, sampai gedung di Lubuk Minturun rampung,” sebutnya.
Ternyata tidak semua civitas akademika SPMA mengetahu adanya rencana aksi unjuk rasa itu. Beberapa siswa dan majelis guru yang sempat diwawancari mengaku tidak mengetahui rencana itu.
Pernyataan mereka ini tampak jelas dari aktifitas di SPMA. Seolah tidak ada apa-apa. Proses belajar mengajar di sekolah yang khusus mempelajari pertanian itu, tetap berlansung. Hanya beberapa siswa yang terlihat ada diluar kelas. Akhirnya saya pun yakin sudah tertipu. Dan akhirnya wartawan kan manusia juga, bisa “ketipu” dengan isu aksi anak sekolahan. (nto)






Komentar»
No comments yet — be the first.