Ternyata kasus SMS “Setan” bukan cuma bikin geger, namun juga makan korban. Di dua kota di Sumbar, dua korban sudah jatuh dan masuk rumah sakit setelah menerima SMS. Tapi bukan karena disantet lewat HP, kemungkinan sakit jantungnya kumat setelah menerima SMS “Setan”.
Korban pertama terjadi di Payakumbuah Sumbar (www.padangkini.com). Nova (33) warga Situjuh Kabupaten Limapuluh Kota, dilarikan ke RS Payakumbuah, Kamis (8/5) pukul 12.00 WIB. Dia pingsan setelah menerima nomor telepon tak dikenal dari nomor +62 281 75 xxxx.
Di kota yang sama, pasien lainnya yang masuk Rumah Sakit yang sama adalah Adnan. Dia mendadak panik dan pinsan, setelah menerima sms dari ‘nomor merah’. Pihak rumah sakit menyatakan pasien ini murni karena sakit jantung.
Sementara itu, di Kota Padang, korban juga jatuh (www.posmetropadang.com). Dia adalah Rudi (2
warga Kelurahan Pampangan Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang. Sekitar pukul 15.00 WIB, hari Jumat (9/5), dia menerima telepon dari nomor berkode 08866…. Korban mencoba menjawab telepon itu. Namun baru saja mengatakan Helloo.., jantung Rudi berdetak hebat, sekujur tubuhnya mengigil dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Oleh warga korban dibawa ke paranormal Nenen (32). Oleh Nenen, kedua jempol korban diikat dengan kain putih berisi ramuan “magic”. Korban pun sadar. Takut hal yang sama terjadi lagi, dia, atas saran paranormal membakar sim card miliknya.
Dalam seminggu terkhir geger SMS Setan ini, menjadi kabar pertakut bagi warga Kota Padang. Saking hangatnya, isu SMS “red line” ini Walikota Padang Drs H Fauzi Bahar MSi pun gerah dan turun tangan. Dia meminta warga tidak termakan isu dan mengedepankan logika. Katanya jika percaya dengan hal-hal seperti itu, sama saja dengan Musryik dan bisa jatuh Syirik.
Membaca dua berita itu, saya berkesimpulan ternyata kemajuan teknologi tidak linear dengan kemajuan logika masyarakat. Orang Indonesia masih saja percaya tahayul dan dunia alam gaib kayak gitu. Buktinya jelas dan banyak contohnya.
Beberapa tahun lalu, hampir setiap malam stasiun televisi kita menayangkan acara setan-setanan. Puas dengan itu, tahun lalu berganti dengan tayangan religius, tapi tetap saja dibungkus dengan yang gaib-gaib. Dan anehnya acara itu laris manis. Banyak peminat.
Apa yang dituliskan Tan Malaka dalam Madilog (Materialis Dialektika dan Logika) penggalan 1940-an silam, ternyata masih kental sampai sekarang sekarang. Bangsa ini tidak pernah melewati revolusi mindset berlogika. Kita sudah tertinggal jauh dalam ketahayulan dan ketakutan.
Sebenarnya kasus tidak masuk dalam ranah logika ini, bukan kali ini saja. Tahun 2001 silam, di kampung saya (Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar) warganya ramai-ramai malamang (makanan khas dari Minangkabau). Padahal saat itu bukan bulan baik dan hari baik, seperti Lebaran, Hari Raya Haji atau Maulud Nabi—orang Minang biasa merayakan hari besar Islam itu dengan malamang—. Sebabnya, ada isu telah datang seorang tua berpakaian putih, bersorban dan berjanggut putih.
Si kakek tua ini meminta warga malamang untuk menolak datangnya kiamat. Ingatan yang bijak. Namun yang bikin gila adalah syaratnya. Bagian pucuk lamang harus ditanam di halaman depan rumah, dan bagian pangkalnya mesti ditanam di belakang rumah, persis tujuh langkah dari pintu belakang. Itu saja. Tidak. Setiap keluarga harus menikmati lamang itu sekeluarga saja, dilarang berbagi dengan tetangga.
Akhirnya memang kiamat tidak datang. Dunia masih aman-aman saja. Apa karena warga patuh, tidak tau juga.
Kejadian itu unik. Kadang bikin tertawa jika diingat dan direnungkan. Namun SMS Red Line ini tentu saja berbeda. Kalau dulu pesannya sangat sederhana dan terjadi di kampung dengan tingkat pendidikan biasa-biasa saja. Nah yang ini dialami warga kota, dengan pendidikan selangit. Dan menggunakan teknologi paling canggih pula.
Apa jaman dulu dukun, kalau mau nyantet pake HP. Nagk kan. Kok sekarang pake. Apa sekarang, setan udah makin banyak gaya. Hari gini ngak punya handphone?? gile. (nto)
Ditulis dalam berita, sosial | yang berkaitan 0666, 0866, Anti kristen, AXIS, GSM yang baik, kartu Setan, Kiamat, Malamang, minangkabau, Natrindo, Padang, Setan, SMS Red Line, SMS Santet, SMS Setan Makan Korban | 14 Komentar »



