Feed on
Tulisan
Komentar

Ternyata kasus SMS “Setan” bukan cuma bikin geger, namun juga makan korban. Di dua kota di Sumbar, dua korban sudah jatuh dan masuk rumah sakit setelah menerima SMS. Tapi bukan karena disantet lewat HP, kemungkinan sakit jantungnya kumat setelah menerima SMS “Setan”.

Korban pertama terjadi di Payakumbuah Sumbar (www.padangkini.com). Nova (33) warga Situjuh Kabupaten Limapuluh Kota, dilarikan ke RS Payakumbuah, Kamis (8/5) pukul 12.00 WIB. Dia pingsan setelah menerima nomor telepon tak dikenal dari nomor +62 281 75 xxxx.

Di kota yang sama, pasien lainnya yang masuk Rumah Sakit yang sama adalah Adnan. Dia mendadak panik dan pinsan, setelah menerima sms dari ‘nomor merah’. Pihak rumah sakit menyatakan pasien ini murni karena sakit jantung.

Sementara itu, di Kota Padang, korban juga jatuh (www.posmetropadang.com). Dia adalah Rudi (2 8) warga Kelurahan Pampangan Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang. Sekitar pukul 15.00 WIB, hari Jumat (9/5), dia menerima telepon dari nomor berkode 08866…. Korban mencoba menjawab telepon itu. Namun baru saja mengatakan Helloo.., jantung Rudi berdetak hebat, sekujur tubuhnya mengigil dan akhirnya tidak sadarkan diri.

Oleh warga korban dibawa ke paranormal Nenen (32). Oleh Nenen, kedua jempol korban diikat dengan kain putih berisi ramuan “magic”. Korban pun sadar. Takut hal yang sama terjadi lagi, dia, atas saran paranormal membakar sim card miliknya.

Dalam seminggu terkhir geger SMS Setan ini, menjadi kabar pertakut bagi warga Kota Padang. Saking hangatnya, isu SMS “red line” ini Walikota Padang Drs H Fauzi Bahar MSi pun gerah dan turun tangan. Dia meminta warga tidak termakan isu dan mengedepankan logika. Katanya jika percaya dengan hal-hal seperti itu, sama saja dengan Musryik dan bisa jatuh Syirik.

Membaca dua berita itu, saya berkesimpulan ternyata kemajuan teknologi tidak linear dengan kemajuan logika masyarakat. Orang Indonesia masih saja percaya tahayul dan dunia alam gaib kayak gitu. Buktinya jelas dan banyak contohnya.

Beberapa tahun lalu, hampir setiap malam stasiun televisi kita menayangkan acara setan-setanan. Puas dengan itu, tahun lalu berganti dengan tayangan religius, tapi tetap saja dibungkus dengan yang gaib-gaib. Dan anehnya acara itu laris manis. Banyak peminat.

Apa yang dituliskan Tan Malaka dalam Madilog (Materialis Dialektika dan Logika) penggalan 1940-an silam, ternyata masih kental sampai sekarang sekarang. Bangsa ini tidak pernah melewati revolusi mindset berlogika. Kita sudah tertinggal jauh dalam ketahayulan dan ketakutan.

Sebenarnya kasus tidak masuk dalam ranah logika ini, bukan kali ini saja. Tahun 2001 silam, di kampung saya (Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar) warganya ramai-ramai malamang (makanan khas dari Minangkabau). Padahal saat itu bukan bulan baik dan hari baik, seperti Lebaran, Hari Raya Haji atau Maulud Nabi—orang Minang biasa merayakan hari besar Islam itu dengan malamang—. Sebabnya, ada isu telah datang seorang tua berpakaian putih, bersorban dan berjanggut putih.

Si kakek tua ini meminta warga malamang untuk menolak datangnya kiamat. Ingatan yang bijak. Namun yang bikin gila adalah syaratnya. Bagian pucuk lamang harus ditanam di halaman depan rumah, dan bagian pangkalnya mesti ditanam di belakang rumah, persis tujuh langkah dari pintu belakang. Itu saja. Tidak. Setiap keluarga harus menikmati lamang itu sekeluarga saja, dilarang berbagi dengan tetangga.

Akhirnya memang kiamat tidak datang. Dunia masih aman-aman saja. Apa karena warga patuh, tidak tau juga.

Kejadian itu unik. Kadang bikin tertawa jika diingat dan direnungkan. Namun SMS Red Line ini tentu saja berbeda. Kalau dulu pesannya sangat sederhana dan terjadi di kampung dengan tingkat pendidikan biasa-biasa saja. Nah yang ini dialami warga kota, dengan pendidikan selangit. Dan menggunakan teknologi paling canggih pula.

Apa jaman dulu dukun, kalau mau nyantet pake HP. Nagk kan. Kok sekarang pake. Apa sekarang, setan udah makin banyak gaya. Hari gini ngak punya handphone?? gile. (nto)

Kalau dapat telepon yang nomor berwarna merah atau kode 0866 dan 666 jangan di angkat karena bisa menelan jiwa. hari inisudah disiarkan berita, terjadi di Jakarta dan Duri. Dan sudah terbukti. Sekarang di usut pihak kepolisian. Dugaan sementara adalah kasus pembunuhan jarak jauh melalui telepon genggam (HP) oleh dukun ilmu hitam / si penelpon adalah roh gentanyangan yang mencari mangsa. Harap mengerti dan kirimkan pesan ini ke teman, saudara anda. Harap membantu sesama umat Islam

Akhirnya saya mendapatkan juga SMS yang bikin geger kota ini dalam semingu terakhir. Beberapa rekan saling bertukar SMS, mengingatkan akan bahaya ini. Bahkan ada salah seorang rekan yang sampai nangis ketakutan, ketika mendengar cerita yang bikin bulu kuduk merinding ini.

Walau SMS diatas tidak merujuk jelas siapa pemilik kode 0866 dan 666 ini, sebagian blog berseleweran di dunia maya menunjuk hidung, provider sim card terbaru, AXIS. Provodir ini dianggap sebagai penyedia kartu setan. Pasalnya dipercayai, dalam tradisi kristen, angka 666 adalah angka setan. Bahkan salah seorang blogger, menulis bahwa AXIS jika dibalik menjadi SIX A. Nama terakhir ini disebut-sebut sebagai nama gereja pemuja setan di Bandung. Benarkah ? Walaualam.

Ketika saya selancar di website AXIS, saya kaget nomor kode sim card milik PT Nantrindo Telepon Seluler ini, bukan berangka depan 08666 atau 666. Dalam webnya disebut, AXIS memiliki empat nomor awal yaitu 0831, 0832, 0833 dan 0838. Berikut kutipan tentang AXIS.

PT Natrindo Telepon Seluler selaku pemegang brand AXIS merupakan operator penyedia layanan seluler GSM dan 3G di Indonesia yang menawarkan layanan komunikasi yang inovatif dan ekonomis. AXIS mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera, dan saat ini sedang gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah lain di Indonesia.

Logo AXIS mencerminkan aspirasi kami yang melambangkan kemajuan dan perubahan. Tekad kami adalah agar seluruh pelanggan dapat menikmati manfaat penuh dari layanan komunikasi bergerak untuk meningkatkan kinerja dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

AXIS didukung oleh dua operator terkemuka di Asia: Saudi Telecom Company, penyedia layanan telekomunikasi nasional Arab Saudi; dan Maxis Communications Berhad, penyedia layanan telekomunikasi terbesar di Malaysia. Kedua investor utama kami bertekad memberikan kontribusi penuh bagi pengembangan industri telekomunikasi di Indonesia.

So.. hubungannya dengan 08666 dimana?? Tidak tahu juga. Analisa saya, ini adalah sebentuk black campaign (kampanye hitam) untuk menjatuhkan pendatang baru ini. Kartu yang membawa tagline GSM yang baik ini, memang baru berencana merambah tanah air. Apalagi saat ini, persaingan antar provider sim card sudah berdarah-darah. Saling memakan. Ujung-ujungnya masyarakat dikibuli dengan iklan yang serba tidak jelas.

Atau jangan-jangan ini hanya akal-akalan marketingnya AXIS untuk memperkenalkan produknya ke konsumen. Namun, kalau itu yang mereka pilih, saya fikir mereka mengambil jalan yang salah. Belum apa-apa sudah membentuk image negatif di masyarakat. Akan susah memperbaiki image yang sudah terbentuk.

Apapun alasannya, SMS “Setan” ini cukup berhasil menyita perhatian publik. Orang-orang membicarakannya, media massa pun meliputnya. Sekali lagi terbukti, teknologi ampuh menciptkana badai ketakutan. Seperti kata kaum Posmo, “Kepakan kelelawar di Afrika, bisa menimbulkan badai di Inggris”. (nto)

Sumbar gudangnya industri otak bukan sekedar ungkapan. Hampir di setiap pameran, bazar dan pesta buku, pengunjung selalu memadati arena. Apalagi jika dilabeli kata-kata diskon, murah dan obral. Di ajang Pesta Buku Minangkabau 2008 ini contohnya. Buku obral serba lima ribu menjadi stand paling favorit.

Dari puluhan stand penerbit yang ambil bagian dalam Pesta Buku di Gedung Badingo Aziz Chan ini, stand Yusuf Ridho Agency menjadi stand paling diserbu. Sejak di buka pagi hari hingga kembali tutup sekitar pukul 21.00 wib, peminat buku tidak silih berganti datang. Apa yang mereka cari, kalau bukan penawaran buku murah seharga Rp 5 ribu.

Pemilik Yusuf Ridho Agency, Abdurahman Soleh kepada Posmetro, Selasa (29/4) mengatakan, selama 4 hari berpameran rata-rata dirinya bisa mengantongi omset hingga mencapai Rp 5 juta/hari. “Alhamdulilah mas, ramai. Satu hari rata-rata kami bisa dapat Rp 5 juta,” kata Rahman panggilan akrabnya.

Yusuf Ridho Agency adalah agen buku yang berasal dari Jokjakarta. Berpameran dan ikut bazar bukan hal yang baru bagi Abdurahman. Hampir setiap pameran yang diadakan di berbagai provinsi, dia lewat Yusuf Ridho Agency, dipastikan ambil bagian. Untuk Sumatera saja, kata pria yang tidak menamatkan SD ini, Padang merupakan kota ketiga, setelah Palembang dan Jambi.

Di stand ini, penikmat buku bisa mengaduk-ngaduk tumpukan buku serba lima ribunya. Buku murah ini memang ditumpuknya di lantai stand. Sedang buku lainnya, yang lebih mahal, taruhlah Rp 10 ribu, Rp 15 ribu dan Rp 20 ribu diletakan di rak-rak yang tersandar di dinding stand. Umumnya buku bekas.

Tidak sulit menemukan stand yang diberi slogan bursa buku murah se Indonesia ini. Tempatnya persis di sebelah kanan ujung pintu masuk gedung bagindo aziz chan. Biasanya pengunjung tidak mau hanya membeli satu atau dua buku saja. “Nanggung jika hanya satu buku. Ini saya ambil 10 biji. Kan baru Rp 50 ribu. Coba kalau di Gramedia, bisa kena Rp 400 ribu. Jarang-jarang ada yang kayak ginian di Padang,” kata Anita. Ditangannya, warga Pasar Baru ini mengapit 10 novel tipis berbagai pengarang.

Harga memang selalu identik dengan kualitas. Hal itu juga berlaku disini. Sulit menemukan novel-novel terbitan kelompok Gramedia, Mizan atau sederet penerbit top lainnya. Bisa jadi tidak dijual murah, tapi bukan berarti tidak ada. Jika anda beruntung, bisa juga mendapatkan buku-buku itu, asalkan lebih sabar mengudak-udak tumpukan buku yang menggunung.

“Buku-buku ini saya dapatkan dari penerbit dan agen di Jokja dan Jakarta. Untuk pameran di Padang ini, kami bawa 40 koli (kardus). Agak sedikit memang, jika dibanding saat kami di Palembang yang bawa 60 koli,” tambah Rahman. Dia hadir di Padang menggantikan bapaknya yang tidak bisa ikut.

Bersama orang tuanya, Abdurahman berkali-kali keluar daerah mengikuti pameran. Akibat sering berpergian, pendidikannya pun jadi terganggu. Buntutnya, Rahman berhenti sekolah di kelas V SD. Kalau dihitung, sekarang harusnya dia sudah kelas II SMA. “Karena sering pergi, ya gini jadinya. Ngak bisa sekolah lagi,” kata Rahman yang tidak hobi membaca ini, namun suka mengoleksi buku dengan dialek Jokja yang sangat kental. (nto)

Gelap di Tengah Padang

Pernah mendengar nama Taluak Buo? Tidak banyak mungkin yang tahu daerah ini. Secara administratif kampung kecil yang mayoritas penduduknya nelayan itu adalah bagian Kota Padang. Namun kontras dengan pusat kota yang gemerlap, ratusan warga disana terpaksa hidup dalam gelap, tanpa puskesmas dan sekolah.

Angin berhembus pelan. Semburat awan putih menghiasi langit cerah pagi itu. Belasan kapal nelayan bersandar di bibir pantai Taluak Buo. Ombak kecil berlari di sela-sela kaki warga yang menyusuri bibir pantai. Agak ke tengah laut, lima pemuda tanggung asyik bercengkrama di atas balai-balai Keramba Jala Apung (KJA) , entah membicarakan apa. Di bibir pantai, di bawah pohon kelapa, tiga nelayan sedang memperbaiki jaring bagan yang koyak.

Taluak Buo tidak pernah menggeliat. Daerah ini seakan tidak pernah tersentuh derap pembangunan. Rumah kayu, gelap tanpa listrik saat malam, tidak ada sekokah, tanpa puskesmas, rendahnya tingkat pendidikan warga adalah cerita nyata dari Taluak Buo. Mirisnya, kampung nelayan yang menghadap langsung ke Samudera Hindia itu adalah bagian Kota Padang, ibukota Provinsi Sumbar.

Taluak Buo berada paling selatan Kota Padang. Daerah ini masuk dalam kecamatan Bungus Teluk Kabung. Dalam hirarki pemerintahan, Taluak Buo yang berpenduduk 35 KK ini adalah bagian dari Kelurahan Teluk Kabung Tengah. Setelah melewati jalur darat dari Kota Padang, kita masih diharuskan menempuh perjalanan laut sekitar 25 menit dari Bungus untuk sampai ke daerah ini. Trasportasi laut satu-satunya sarana angkutan warga jika ingin mengunjungi Kota Padang.

“Hidup kami sarupo lauk dalam kolam. Baputa-puta disinan sajo. Indak adoh barubah. Jankan ka tamat sakolah, SD dua jam sajo indak pulo tamek” Zardi, ketua RW 4 Taluak Buo mengawali pembicaraan di ruang Pondok Pesantren Dhuafa Nusantara saat kunjungan ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sumbar Syaharman Zanhar, Minggu (20/4) lalu.

Sejak awal warga Taluak Buo hidup tanpa aliran listrik. Saban malam masyoritas warga diterangi cahaya dari lampu “togok”. Meski demikian, beberapa warga ada juga yang memiliki genset sendiri. Maka tidak heran ditengah kesederhanaan Taluak Buo, kita masih menyaksikan tiga atau empat unit antena UHF terpancang di samping rumah warga.

Derita warga bukan cuma itu. Daerah yang semua penduduknya berprofesi nelayan ini, juga tidak memiliki sekolah. Awalnya, jelas Zardi ada sebuah SD negeri di daerah itu, yaitu SDN 23. Namun sejak berdiri tahun 1981 silam, sekolah ini tidak pernah berkembang. Keterbatasan transportasi membuat guru malas mengajar di sana. Akibatnya murid terlantar. Dan gedung sekolah itu ambruk.

Masih bisa disaksikan bangunan permanen tanpa atap berdiri menghadap laut. Sejak 2002 silam, sebagian bangunan yang masih layak dimanfaatkan Yayasan Isafat membuat pondok pesantren. Sekarang pondok yang diberi nama Pondok Pesantren Terpadu Dhuafa Nusantara ini memiliki 37 siswa dari berbagai provinsi di Indonesia. Praktis pesantren setingkat MTSn ini menjadi satu-satunya sekolah di Taluak Buo.

“Anak-anak yang duduk di SD, bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Koto di tepi,” kata salah seorang warga. Kata tepi adalah sebutan warga Taluak Buo untuk daerah diseberang sana. Ada 20-an anak-anak Taluak Guo yang bersekolah di tepi. Saban pagi, bocah-bocah mungil ini harus mengarungi samudera sepanjang 3 mil atau 25 menit perjalanan dengan perahu, demi menggapai cita-cita.

“Kalau hujan agak deras, anak-anak tidak jadi ke sekolah. Karena biasanya pasang naik dan gelombang tinggi. Setiap pagi ada dua sampai empat perahu yang menjemput kesini. Ongkosnya Rp 2 ribu pulang pergi. Saya punya anak tiga yang sekolah di tepi, dua SD satu SMP,” tambahnya.

Sama halnya dengan sekolah, Taluak Buo juga tidak punya puskesmas. Warga yang sakit harus menyeberangi lautan ke Puskesmas terdekat di Bungus Teluk Kabung. “Lah sering kami dijanjikan untuk dibuatkan jalan darat. Sudah puluhan kali tanah dipatok. Namun sampai kini janji itu tidak terealisasi. Dulu pernah juga ada anggaran Rp 200 juta untuk buat jalan, nyatanya juga tidak ada. Kami sudah putus asa dan bosan dengan janji-janji,” Zardi menjelaskan.

Hampir disetiap momen pemilihan anggota DPR atau kepala daerah, pejabat selalau mendatangi mereka. Warga dijanjikan macam-macam, mulai dari pembuatan jalan, penambahan fasilitas sampai ada yang mengusulkan untuk memindahkan mereka. “Jujur kami terisngung dengan pernyataan itu. Apa kami ini orang primitif, orang kubu yang harus dimasyarakatkan,” katanya.

Zaman memang terus berubah, namun Teluk Buo masih seperti itu. Termajinalkan ditengah derapnya pembangunan Kota Padang. Mereka menunggu perhatian. Karena jangankan walikota, walinagari saja kata warga belum pernah sekalipun berkunjung ke daerah tempat ombak saling mendahului ini. (nto)

Kalimat Love for All Hurted for None terukir utuh di dinding pagar gedung itu. Beberapa unit sepeda motor tampak terparkir di pekarangannya. Langit Kota Padang sedikit mendung. Empat puluh lima menit lagi umat Islam akan menunaikan ibadah shalat Jumat.

Masyarakat kota ini sedang menggeliat. Namun kaum laki-lakinya mulai bersiap-siap meninggalkan aktivitas. Sebentar lagi panggilan Allah mengumandang. Jam dinding di ruang tamu sekretariat Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Cabang Padang Jalan Agus Salim No 5 Padang, saat itu menunjukan pukul 11.40 Wib. Markas kaum Ahmadi ini masih sepi.

Tak lama, sekitar 20 menit kemudian, satu demi satu pengikut ajaran ini memasuki kompleks gedung yang di dalamnya selain sekretariat juga ada Masjid Mubarak, tempat kaum Ahmadi biasa menunaikan shalat wajib lima waktu dan shalat sunat. Mereka datang berjalan kaki, mengendarai sepeda motor dan berkedaraan roda empat. Sekilas terlihat pin nama tersemat dada mereka, bukti kalau mereka berasal dari pegawai pemerintahan atau swasta.

Beberapa diantaranya mengenakan pakaian muslim, berbaju koko dan berkopiah. Sedang lainnya memakai sarung dan pakaian sehari-hari. Kaum Ahmadi ini bermaksud menunaikan shalat Jumat di Masjid Mubarak. Mereka tidak hanya orang-orang tua, tapi juga anak muda. Malahan ada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagian jamaah menuju ke ruang masjid dan sebagian lainnya mendiskusikan informasi terbaru tentang ajaran yang mereka yakini.

Dari masjid lain di Kota Padang, lamat terdengar alunan ayat-ayat Alquran. Namun di Masjid Mubarak, alunan ayat Alquran tidak terdengar. Mungkin para jamaahnya hanya membaca dalam hati masing-masing.

Masjid Mubarak berdiri dibagian kanan sekretrariat ini. Agak ke belakang. Sama dengan masjid kebanyakan, tidak ada gambar apalagi photo di dalamnya. Termasuk photo close up pendiri dan Khalifatul Masih Ahmadiyah, seperti yang ada di ruang tamu sekretariatnya.

Masjid berlantai dua ini cukup sederhana. Lantainya terbuat dari ubin putih mengkilap yang dipadu ubin berwarna hijau lumut pada dindingnya. Sajadah merah bermotifkan Taj Mahal terhampar di lantai masjid. Di bagian tengah terdapat miniatur masjid, dan kiblat dilengkapi dengan migrab berwana coklat tua bertatahkan Kalimatullah La Ilaha Ilallah. Hanya ada tiga baling-baling angin, beberapa pengeras suara dan satu rak buku berisi Al Quran. Di sebelah dinding ada beberapa papan pengumuman memuat info-info Ahmadiyah.

Beberapa kran air wudu di belakang masjid ini mulai bergemerecik. Satu demi satu jamaah berwuduk dan mengisi setiap shaft. Dari delapan shaft masjid itu, hanya lima yang terisi penuh. Di belakang, dengan pembatas triplek dan selembar tirai, beberapa kaum ibu duduk bertelekung.

Hanya beberapa orang yang bercakap-cakap. Sekitar pukul 12.30 azan pun berkumadang memecah udara siang, saling mengungguli suara azan dari mesjid tetangga. Para jamaah berdiri dan hampir semuanya melakukan shalat sunah. Itu adalah azan pertama. Lima menit kemudian, azan kedua dikumandangkan, namun tidak melalui pengeras suara. Alunannya menggema diantero ruang masjid berlantai II ini.

Pejabat Sementara Jemaat Ahmadiyah Cabang Padang Hafiz Nawir bertindak sebagai khatib sekaligus imam. Dalam kutbahnya, Hafiz tidak ada menyingung-nyinggung keluarnya keputusan Bakorpakem terbaru. Khutbah dilakukan seperti di masjid-masjid biasanya. Ada bacaan ayat Alquran, jeda diantara dua khutbah dan doa. Itu pun dilakukan dalam bahasa Indonesia.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. Itu adalah terjemahan surat Al Mukminun ayat 12-14, yang dibawakannya diawal khutbah. Surat Al Mukminun itu juga yang dibawakannya pada rakaat pertama ibadah shalat Jumat.

Semua tampak khusyuk. Tidak terdengar suara anak-anak. Penyebutan Amin sesudah imam mengucapkan waladdallin dilakukan dengan pelan, tidak senyaring di masjid lain. Di rakaat ke dua Hafiz Nawir membawakan surat At Tiin. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim……(sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya), jamaah pun rukun dan bersujud.

Semua prosesi shalat Jumat di Masjid Mubarak berlangsung seperti umumnya di masjid-masjid lain. Tidak ada yang berbeda. “Orang bilang kami kalau shalat pakai sepatu. Itu tidak benar, kan adik-adik sudah melihatnya sendiri,” kata Humas Jemaat Ahmadiyah Cabang Padang Arfan Taher Sutan Kayo kepada watawan usai shalat.

Pengikut Jemaat Ahmadiyah kembali menjadi sorotan, sejak Bakorpakem mengeluarkan keputusan terbaru melarang keberadaan aliran yang dibawa Mirza Ghulom Ahmad ini. Setiap hari mereka menjadi perbincangan publik di media massa. Ada beberapa kliping koran dan seruan pengurus pusat Jemaat Ahmadiyah tertempel di dinding sekretariatnya.

Beberapa anggota Jemaat Ahmadiyah mengaku tidak terpengaruh dengan larangan itu. Bahkan semakin ditekan, semakin kuat rasa keyakinan mereka. Kalimat Love for All Hurted for None (Cinta untuk semasa, Kebencian tidak untuk siapapun), menjadi slogan hidup pengikut aliran yang di Sumbar ada 1000-an orang ini. Orang menganggap mereka sesat dan mereka mengaku tidak akan membalas dengan hal yang sama. (nto)

Older Posts »